Metodologi

Regresi & Korelasi Linier Sederhana <!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-no-proof:yes;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:829251411; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1574419892 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:1107504350; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-487844864 67698709 67698703 1819695624 67698703 -361970954 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-tab-stop:101.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:101.25pt; text-indent:-20.25pt;} @list l1:level4 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1225333133; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1308135806 67698703 667458602 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1333293983; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1068325742 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

STUDI PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Seperti telah diuraikan pada bab terdahulu, bahwa masalah merupakan dasar untuk memulai suatu penelitian. Dan masalah tersebut juga muncul suatu pertanyaan yang akan dijawab melalui kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Kemudian pertanyaan peneliteian ini menimbulkan jawaban sementara atau hipotesis. Hipotesis penelitian inilah yang akan diuji kebenarannya melalui penelitian. Di pihak lain, suatu penelitian memerlukan dasar teoretis tentang bidang ilmu yang akan diteliti. Merumuskan hipotesis dan meletakkan dasar suatu penelitian ini memerlukan pengetahuan atau informasi-informasi yang berkaitan dengan bidang yang akan diteliti tersebut Untuk keperluan ini semua diperlukan studi pendahuluan atau prelimanelary study terlebih dahulu.

Kadang-kadang seseorang ingin melakukan penelitian terhadap suatu masalah, padahal orang itu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah yang akan diteliti tersebut. Hal ini tidak baik, karena dapat dipastikan bahwa penelitian yang akan dilakukan, dan juga hipotesis-hipotesis yang dirumuskan tidak berdasarkan kerangka dasar teori yang kuat. Untuk memulai suatu penelitian diperlukan bekal pengetahuan yang luas baik pengetahuan teoretis maupun praktis tentang bidang yang akan diteliti. Pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi ini dapat diperoleh bail melalui membaca buku-buku, hasil-hasil penelitian orang lain, maupun pengalaman langsung dari lapangan. Seseorang ahli ilmu pengetahuan yang bernama Thomas Alfa Edison mengatakan:

When I eont to discover samething. I begin by reading everything that been done in the past…..I see what has been accomplished at great labor and experences in the past. I gather data of many thou sands of esperiment point, and make thousands more.”

Seorang peneliti yang akan meneliti di bidang penyakit kulit misalnya, ia harus mengetahui banyak tentan penyakit tersebut. Untuk itu ia harus mempelajari dan mempunyai banyak pengalaman tentang penyakit kulit. Apabila ia tidak mempunyai informasi atau pengetahuan tentang penyakit tersebut, maka ia akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti atau diukur. Meskipun peneliti tersebut sudah mempunyai banyak pengalamaan di bidang klinis misalnya, dan akan melakukan penelitian dibidang prevent maka ia harus mendalami bidang preventif terlebih dahulu.

Studi pendahuluan ini dilakukan pada hakikatnya adalah untuk memperoleh informasi-informasi atau pengetahuan sehubungan dengan bidang yang akan ditelitinya, guna memperkuat atau menyokong secara ilmiah terhadap penelitian tersebut. Studi pendahuluan ini dapat dilaksanakan dengan mempelajari sumber-sumber informasi tentang bidang yang diteliti. Pada garis sumber-sumber informasi ini dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu:

  1. Sumber informasi dokumenter.
  2. Sumber informasi kepustakan (bibliografi)
  3. Sumber informasi lapangan.

B. Sumber Informasi Dokumenter

Yang dimaksud dengan sumber informasi-informasi pada dasarnya adalah semua bentuk sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen, baik dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi. Dokumen resmi, adalah semua bentuk dokumen baik yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan, yang ada dibawah tanggung jawab instansi resmi, misalnya laporan, statistik, catatan-catatan di dalam kartu klinik, dan sebagainya. Sedangkan dokumen tidak resmi ialah segala bentuk dokumen yang berada atau menjadi tanggung jawab dan wewenang badan atau intansi tidak resmi atau perorangan, seperti biografi, catatan harian, dan semacamnya.

Selanjutnya sumber informasi ini dapat digolongkan menjadi 2, yaitu sumber primer (Primary resources) dan sumber sekunder (secondery resources). Sumber primer atau sering disebut sumber data tangan first han of informastion, adalah sumber informasi yang langsung berasal dari yang mempunyai wewenang dan bertanggung jawab terhadap data tersebut. Misalnya, informasi tentang program perluasan atau peningkatan rumah sakit di seluruh Indonesia, maka sumber pertamanya dapat diperoleh dari Direktorat Pelayanan Kesehatan, Departemen Kesehatan. Apabila ingin informasi tentang obat-obat, maka sumber yang pertama adalah Dirjen Pengawasan Obat dan Minum.

Sedangkan sumber sekunder, adalah sumber informasi yang bukan dari tangan pertama, dan yang bukan mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi tentang progtam pelayanan kesehatan tersebut bukan langsung diperoleh dari Dirjen Yankes, tetapi sumber yang sudah kedua, ketiga dan sebagainya.

C. Sumber Kepustakaan

Bahan-bahan pustaka merupaksan hal yang sangat penting dalam menunjang latar belakang teoritis dari suatu penelitian. Telah kita letahui bersama bahwa di dalam perpustakaan tersimpan berbagai bahan bacaan dan informasi dari berbagai disiplin ilmu. Dari buku-buku. laporan-laporan penelitian, majalah ilmiah, jurnal, dan sebagiannya kita dapat memperoleh berbagai informasi. Baik berupa teori-teori generalisasi, maupun konsep yang lelah dikemukakan berbagai ahli. Oleh sebab itu sebelum mulai penelitian. Seorang peneliti harus akrab dengan perpustakaan, agar mempunyai dasar yang kuat dalam melaksanakan penelitianya. Pentingnya mempelajari bahan informasi dan perpustakaan ini antara lain sebagai berit :

1. Bahan perpustakaan dapat mengarahkan kita dalam menciptakan pemahaman, dan selanjutnya dapat mengarahkan dalam merumuskan masalah penelitian yang tepat. Dengan dirumush masalah yang tepat akan diperoleh arah dan hasil penelitian yang tepat dan relevan.

2. Dengan mempelajari bahan perpustakaan dapat membantu kita dalam mengarahkan pemikiran konsepsual maupun dalam menguji ketepatan asumsi atau hipotesis yang dirumuskan.

3. Dengan mempelajari bahan kepustakaan, dapat menentukan teknik penelitian yang tepat, sehingga diharapkan hasil penelitian dapat valid dan bermakna.

4. Dengan mempelajari bahan perpustakaan dengan baik, akan membantu menghindari pengutipan pendapat orang lain yang tidak tepat, dan juga dapat menghindari pelaksanaan penelitian yang mencapai tujuan penelitian.

Hasil penelitian yang baik perlu ditunjang dengan bahan perpustakaan yang memadai dan yang baik. Sedangkan hasil penelitian yang baik selanjutnya akan menunjang perkembangan ilmu pengetahuan, serta dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahan-bahan kepustakaan yang dapat digunakan menunjang latar belakang masalah, kerangka teoretis, dan hipotesis penelitian, dapat digolongkan ke dalam :

  1. Buku yang diterbitkan
  2. Berbagai jenis penerbitan berkala, seperti majalah, jumal, buletin, brosur, dan sebagainya.
  3. Berbagai harian atau surat kabar.
  4. Karangan atau makalah ilmiah yang tidak diterbitkan, sepeni makalah, skripsi, thesis, dan disertasi.
  5. Laporan-laporan penelitian.
  6. Laporan-laporan dari instansi resmi.

Dalam menggunakan bahan kepustakaan untuk menunjang penelitian hendaknya disesuaikan dengan aturan-aturan umum sepeiti penulisan karya ilmiah lainnya. Hal ini berarti dalam mencatat data atau informasi dari bahan-bahan kepustakaan hendaknya berdasarkan aturan-aturan seperti yang dipakai di dalam pencatatan dan penulisan karya ilmiah, antara lain sebagai berikui:

  1. Pencatatan keterangan tentang sumber

Dalam mencatat sumber kepustakaan biasanya mengikuti urutan-urutan sebagai berikut:

a. Nama pengarang. Apabila tidak ada nama pengarang, dicantumkan nama badan atau instansi yang menerbitkan atau editornya.

b. Judul sumber (nama buku, artikel, atau manuskrip yang lain).

c. Bila artikel atau judul tersebut diamtil dari koran atau majalah berkala, tuliskan judulnya kemudian nama koran atau majalah yang memuatnya, serta volume atau edisi atau nomor penerbitan, tanggal, bulan, dan tahun.

d. Nama penerbit (untuk buku dan karangan lain yang diterbitkan).

e. Tempat penerbitan.

f. Tahun penerbitan.

g. Apabila suatu buku terdiri dari beberapa jilid atau merupakan suatu seri, dicantumkan setelah nama buku itu nomor jilid atau serinya.

h. Bila perlu dicantumkan nomor halaman yang dipelajari atau dikutip.

  1. Menuliskan sesuai dengan aslinya (mengutip) atau meringkas informasi yang dianggap penting, yang akan dijadikan bahan penunjang teoretis, serta nomor halaman di mana informasi itu diperoleh.
  2. Menyusun Informasi yang diperoleh dari sesuai dengan buku urutan halaman dengan uruian dari nomor kecil ke nomor besar.
  3. Bila berbagai informasi atau ketcrangan yang diperoleh dari berbagai sumber sudah dicatat, maka segala informasi yang dicatat tersebut disusun menurut urutan alfabetis nama pengarang.
  4. Segala macam catatan tersebut sebaiknya dibuat dalam kertas lepas-lepas dan dimasukkan ke dalam snelhechter map atau map folio sehingga memudahkan untuk menyusun atau mencari kembali informasi tersebut sewaktu diperlukan.

D. SUMBER INFORMASI LAPANGAN

Di samping sumber-sumber informasi tertulis yang diperoleh kepustakaan atau dokumen-dokumen lainnya, dalam studi pendahuluan ini juga dapat menggunakan sumber informasi dari lapangan. Sumber informasi lapangan ini diperoleh langsung dari objeknya di lapangan. Biasanya sumber informasi lapangan adalah pribadi-pribadi yang berkecimpung di bidang yang diteliti, dan karena iru disebut su informasi pribadi. Informasi-informasi ini dapat diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, angket, maupun eksperimen pendahuluan. Teknik-teknik ini akan dibicarakan di dalam bab lain dari tulisan ini. Sumber informasi lapangan dalam rangka studi pendahuluan terhadap suatu masalah penelitian, antara lain meliputi:

1. Sumber pribadi:

Sumber informasi pribadi atau perorangan ini meliputi semua orang atau agen yang menjadi sumber informasi sehubungan dengan masalah yang diteliti, baik orang yang ahli di bidang tersebut maupun orang yang bukan ahli tetapi berkecimpung di bidang yang sedang diteliti tersebut.

2. Lembaga atau organisasi

Yang dimaksud dengan lembaga atau organisasi di sini adalah organisasi atau lembaga pelayanan masyarakat. Di dalam bidang kedokteran atau kesehatan, lembaga atau organisasi-organisasi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta merupakan sumber informasi kesehatan. Departemen Kesehatan beserta aparat-aparat dibawahnya merupakan lembaga atau organisasi yang paling akurat sebagai sumber informasi kesehatan di Indonesia.

3. Kantor-kantor baik pemerintah maupun swasta juga merupakan sumber informasi lapangan.

4. Kejadian, gejala atau kasus yang terjadi di dalam masyarakat juga merupakan sumber informasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: