Materi I Metodologi Penelitian

FILSAFAT ILMU DAN METODE PENELITIAN

A. Pendahuluan

Filsafat berasal dari kata filo dan sofia (bahasa Yunani). Filo artinya cinta atau menyenangi dan sofia artinya bijaksana. Konon orang yang selalu mendambakan kebijaksanaan adalah orang-orang yang pandai, orang yang selalu mencari kebenaran. Dalam mencari kebe­naran ini mereka mendasarkan kepada pemikiran dan logika, dan bahkan berspekulasi. Hal ini terjadi pada zaman sebelum ilmu berkembang. Hasil pemikiran mereka ini kemudian menjadi tantangan bagi para ilmuwan selanjutnya. di mana dalam menemukan kebenaran lebih mementingkan penemuan-penemuan empiris. Logika bukan sebagai metode untuk menemukan atau mencari kebenaran tersebut. Melihat lahirnya ilmu adalah karena ketidakpuasan para ilmuwan terhadap penemuan kebenaran oleh para filosof, maka dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan bentuk-bentuk perkembangan filsafat. Selanjutnya dikatakan bahwa ilmu filsafat merupakan induk dari ilmu.

Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama, yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences} dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences). Selanjutnya ilmu-ilmu alam membagi diri menjadi dua kelompok lagi, yakni ilmu alam (physical sciences) dan ilmu hayat (biological sciences) ilmu-ilmu soslal berkembang agak lambat dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam. Yang mula-mula berkembang adalah antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik. Selanjutnya baik cabang-cabang ilmu alam maupun ilmu-ilmu politik bercabang-cabang lagi sehingga sampai pada saat ini terdapat sekitar 650 cabang keilmuan.

Meskipun filsafat telah berkembang menjadi bermacam-macarn ilmu, namun filsafat sendiri tidak tenggelam, bahkan ikut berkembang pula seirama dengan perkembangan ilmu. Dalam arti yang operasional filsafat adalah suatu pemikiran yang mendalam sampai ke akar-akarnya terhadap suatu masalah atau objek. Sesuai dengan perkembangan filsafat dan pengertiannya maka muncul berbagai macam filsafat, antara lain: filsafat alam (metafisika). filsafat ketuhanan (theologia), filsafat manusia, filsafat ilmu. dan sebagainya.

B. Pengetahuan, Ilmu, Dan Filsafat

Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna, dalam memahami alam sekitarnya terjadi proses yang bertingkat dari penge­tahuan (sebagai hasil dari tahu manusia), ilmu, dan filsafat. Pengetahuan (knowelwdge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekadar menjawab pertanyaan “What”, misalnya apa air, apa manusia. apa alam, dan sebagainya. Sedangkan ilmu (science) bukan sekadar menjawab “What”, melainkan akan menjawab pertanyaan “Why” dan ‘How”, misalnya mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernafas, dan sebagainya. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Tetapi ilmu dapat menjawab mengapa dan bagaimana sesuam tersebut terjadi.

Apabila pengetahuan itu mempunyai sasaran yang tenentu, mempunyai metode atau pendekatan untuk mengkaji objek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan diakui secara universal, maka terbentuklah disiplin ilmu. Dengan perkataan lain, pengetahuan itu dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Mempunyai objek kajian
  2. Mempunyai metode pendekatan
  3. bersifat universal(mendapat pengakuan secara umum)

Sedangkan filsafat adalah suatu kajiannya tidak hanya terbatas pada fakta-fakra saja, melainkan sampai jauh di luar fakta, sampai batas kemampuan logika manusia. Ilmu mengkaji kebenaran dengan bukti logika atau jalan pikiran manusia. Dengan perkataan lain, batas kajian ilmu adalah fakta. Sedangkan batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia. Ilmu menjawab atas pertanyaan “Whay ” dan “How“, sedangkan filsafat menjawab pertanyaan “Why and Why and Whay” dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia.

Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini maka bidang pengkajian filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh, melainkan sektoral. Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan, melainkan mengaitkannya dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Namun demikian. dengan taraf ini secara konsepsual ilmu masih mendasarkan diri pada norma-norma filsafat. Misalnya ekonomi, masih merupakan penerapan erika (appliet ethics) dalam kegiatan ma­nusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif (berpikir dari hal-hal yang umum kepada yang bersifat khusus) berdasarkan asas-asas moral yang filsafat. Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan bertumpu sepenuhnya pada hakikat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan. ilmu masih mendasari diri pada norma yang seharusnya, sedangkan dalam tahap terakhir ilmu didasarkan atas penemuan-penemuan. Sehingga dalam menyusun teori-teori ilmu pengetahuan tentang alam dan isinya ini, maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif, melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif (berpikir dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang bersifat umum), dengan jembatan yang berupa pengujian hipotesis. Selanjutnya proses ini dikenal sebagai “Metoda deducto hipotetico-verivikatif“, dan metode ini dipakai sebagai dasar pengembangan metode ilmiah yang lebih dikenal dengan Metode Penelitian, Selanjumya melalui atau menggunakan metode ilmiah ini akan menghasilkan ilmu.

August Comte (1798-1857) membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan tersebut di atas ke dalam tahap religius, metafisik, dan positif. Hal ini dimaksudkan dalam tahap pertama maka asas religilah yang dijadikan postulat atau dalil ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi (deducto), Dalam tahap kedua orang mulai berspekulasi berasumsi, atau membuat hipotesis-hipotesis reniang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahan yang terbahas dari dogma religi, dan mengembangkan sistem pengeta­huan berdasarkan postulat metafisika tersebut (hipotetico). Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah, di mana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verivikasi yang objektif (verivikatif).

Secara visual proses perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, yang selanjutnya merupakan kerangka-kerangka metode ilmiah dapat digambarkan seperti terlihat dalam skema di bawah :

Skema 1.1

Metode Deducto-Hipotetico-Verivikatif

DEDUKSI- Berdasarkan penealaman-pengalaman atau teori-teori atau dogma-dogma yang bersifat umum dilakukan dugaan-dugaan atau hipotesis.

HIPOTESIS Adalah dugaan yang ditarik berdasarkan teori dogma, atau pengalaman-pengalaman.

VERIVIKASI- Adalah proses pembuktian untuk hipotesis-hipotesis yang telah disusun melalui kegiatan.

INDUKSI – Hasil penelitian tersebut disusun ke dalam suatu teori yang umum.

C. Landasan Ilmu

Filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhdap hakikat ilmu. Oleh sebab itu filsarat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu tersebut. seperti :

1. Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakikat objek tersebut? Bagaimana hubungan objek dengan daya tangkap manusia misalnya: berpikir, merasa, mengindra)?

2. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengerahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Cara. teknik, atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

3. Untuk apa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral/ profesional?

Ketiga kelompok pertanyaan tersebut merupakan landasan-landasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan landasan ontologi. kelompok kedua merupakan landasan epistemologi, dan kelompok yang terakhir merupakan landasan aksiologis. Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :

  1. Landasan Ontologis, adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus mempunyai objek telaahan yang jelas. Dikarenakan diversifikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya, maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda.
  2. Landasan Epistemologi, adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum metode ilmiah pada dasarnya untuk semua disiplin ilmu.

Secara lebih jelas dapat dikatakasi bahwa ilmu mempunyai metode sendiri dalam mendapatkan pengitahuannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.

Kedua, tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah. Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi saran berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.

Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipaki dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dilihat dari pola berpikirnya maka itu ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah. Sebagai resume dari pengkajin mengenai hakikat sarana berpikir ilmiah, peranan masing-masing sarana berpikir tersebut disajikan dalam bagan sebagai berikut :

Skema 1.2

Ilmu dan Sarana Berpikir Ilmiah

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Logika

Matematika

Deduksi

Dunia Rasional

Dunia Empiris

Khazanah

Ilmu

Ramalan

(Hipotesis

Induksi

Fakta

Pengujian

Statistika

Metode

Penelitian

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: