Materi I Metodologi Penelitian

FILSAFAT ILMU DAN METODE PENELITIAN

A. Pendahuluan

Filsafat berasal dari kata filo dan sofia (bahasa Yunani). Filo artinya cinta atau menyenangi dan sofia artinya bijaksana. Konon orang yang selalu mendambakan kebijaksanaan adalah orang-orang yang pandai, orang yang selalu mencari kebenaran. Dalam mencari kebe­naran ini mereka mendasarkan kepada pemikiran dan logika, dan bahkan berspekulasi. Hal ini terjadi pada zaman sebelum ilmu berkembang. Hasil pemikiran mereka ini kemudian menjadi tantangan bagi para ilmuwan selanjutnya. di mana dalam menemukan kebenaran lebih mementingkan penemuan-penemuan empiris. Logika bukan sebagai metode untuk menemukan atau mencari kebenaran tersebut. Melihat lahirnya ilmu adalah karena ketidakpuasan para ilmuwan terhadap penemuan kebenaran oleh para filosof, maka dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan bentuk-bentuk perkembangan filsafat. Selanjutnya dikatakan bahwa ilmu filsafat merupakan induk dari ilmu.

Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama, yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences} dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences). Selanjutnya ilmu-ilmu alam membagi diri menjadi dua kelompok lagi, yakni ilmu alam (physical sciences) dan ilmu hayat (biological sciences) ilmu-ilmu soslal berkembang agak lambat dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam. Yang mula-mula berkembang adalah antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik. Selanjutnya baik cabang-cabang ilmu alam maupun ilmu-ilmu politik bercabang-cabang lagi sehingga sampai pada saat ini terdapat sekitar 650 cabang keilmuan.

Meskipun filsafat telah berkembang menjadi bermacam-macarn ilmu, namun filsafat sendiri tidak tenggelam, bahkan ikut berkembang pula seirama dengan perkembangan ilmu. Dalam arti yang operasional filsafat adalah suatu pemikiran yang mendalam sampai ke akar-akarnya terhadap suatu masalah atau objek. Sesuai dengan perkembangan filsafat dan pengertiannya maka muncul berbagai macam filsafat, antara lain: filsafat alam (metafisika). filsafat ketuhanan (theologia), filsafat manusia, filsafat ilmu. dan sebagainya.

B. Pengetahuan, Ilmu, Dan Filsafat

Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna, dalam memahami alam sekitarnya terjadi proses yang bertingkat dari penge­tahuan (sebagai hasil dari tahu manusia), ilmu, dan filsafat. Pengetahuan (knowelwdge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekadar menjawab pertanyaan “What”, misalnya apa air, apa manusia. apa alam, dan sebagainya. Sedangkan ilmu (science) bukan sekadar menjawab “What”, melainkan akan menjawab pertanyaan “Why” dan ‘How”, misalnya mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernafas, dan sebagainya. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Tetapi ilmu dapat menjawab mengapa dan bagaimana sesuam tersebut terjadi.

Apabila pengetahuan itu mempunyai sasaran yang tenentu, mempunyai metode atau pendekatan untuk mengkaji objek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan diakui secara universal, maka terbentuklah disiplin ilmu. Dengan perkataan lain, pengetahuan itu dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Mempunyai objek kajian
  2. Mempunyai metode pendekatan
  3. bersifat universal(mendapat pengakuan secara umum)

Sedangkan filsafat adalah suatu kajiannya tidak hanya terbatas pada fakta-fakra saja, melainkan sampai jauh di luar fakta, sampai batas kemampuan logika manusia. Ilmu mengkaji kebenaran dengan bukti logika atau jalan pikiran manusia. Dengan perkataan lain, batas kajian ilmu adalah fakta. Sedangkan batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia. Ilmu menjawab atas pertanyaan “Whay ” dan “How“, sedangkan filsafat menjawab pertanyaan “Why and Why and Whay” dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia.

Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini maka bidang pengkajian filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh, melainkan sektoral. Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan, melainkan mengaitkannya dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Namun demikian. dengan taraf ini secara konsepsual ilmu masih mendasarkan diri pada norma-norma filsafat. Misalnya ekonomi, masih merupakan penerapan erika (appliet ethics) dalam kegiatan ma­nusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif (berpikir dari hal-hal yang umum kepada yang bersifat khusus) berdasarkan asas-asas moral yang filsafat. Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan bertumpu sepenuhnya pada hakikat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan. ilmu masih mendasari diri pada norma yang seharusnya, sedangkan dalam tahap terakhir ilmu didasarkan atas penemuan-penemuan. Sehingga dalam menyusun teori-teori ilmu pengetahuan tentang alam dan isinya ini, maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif, melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif (berpikir dari hal-hal yang khusus kepada hal-hal yang bersifat umum), dengan jembatan yang berupa pengujian hipotesis. Selanjutnya proses ini dikenal sebagai “Metoda deducto hipotetico-verivikatif“, dan metode ini dipakai sebagai dasar pengembangan metode ilmiah yang lebih dikenal dengan Metode Penelitian, Selanjumya melalui atau menggunakan metode ilmiah ini akan menghasilkan ilmu.

August Comte (1798-1857) membagi tiga tingkat perkembangan ilmu pengetahuan tersebut di atas ke dalam tahap religius, metafisik, dan positif. Hal ini dimaksudkan dalam tahap pertama maka asas religilah yang dijadikan postulat atau dalil ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi (deducto), Dalam tahap kedua orang mulai berspekulasi berasumsi, atau membuat hipotesis-hipotesis reniang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahan yang terbahas dari dogma religi, dan mengembangkan sistem pengeta­huan berdasarkan postulat metafisika tersebut (hipotetico). Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah, di mana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verivikasi yang objektif (verivikatif).

Secara visual proses perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, yang selanjutnya merupakan kerangka-kerangka metode ilmiah dapat digambarkan seperti terlihat dalam skema di bawah :

Skema 1.1

Metode Deducto-Hipotetico-Verivikatif

DEDUKSI- Berdasarkan penealaman-pengalaman atau teori-teori atau dogma-dogma yang bersifat umum dilakukan dugaan-dugaan atau hipotesis.

HIPOTESIS - Adalah dugaan yang ditarik berdasarkan teori dogma, atau pengalaman-pengalaman.

VERIVIKASI- Adalah proses pembuktian untuk hipotesis-hipotesis yang telah disusun melalui kegiatan.

INDUKSI - Hasil penelitian tersebut disusun ke dalam suatu teori yang umum.

C. Landasan Ilmu

Filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhdap hakikat ilmu. Oleh sebab itu filsarat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu tersebut. seperti :

1. Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakikat objek tersebut? Bagaimana hubungan objek dengan daya tangkap manusia misalnya: berpikir, merasa, mengindra)?

2. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengerahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Cara. teknik, atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

3. Untuk apa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral/ profesional?

Ketiga kelompok pertanyaan tersebut merupakan landasan-landasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan landasan ontologi. kelompok kedua merupakan landasan epistemologi, dan kelompok yang terakhir merupakan landasan aksiologis. Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :

  1. Landasan Ontologis, adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus mempunyai objek telaahan yang jelas. Dikarenakan diversifikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya, maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda.
  2. Landasan Epistemologi, adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum metode ilmiah pada dasarnya untuk semua disiplin ilmu.

Secara lebih jelas dapat dikatakasi bahwa ilmu mempunyai metode sendiri dalam mendapatkan pengitahuannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.

Kedua, tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah. Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi saran berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.

Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipaki dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dilihat dari pola berpikirnya maka itu ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakikatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah. Sebagai resume dari pengkajin mengenai hakikat sarana berpikir ilmiah, peranan masing-masing sarana berpikir tersebut disajikan dalam bagan sebagai berikut :

Skema 1.2

Ilmu dan Sarana Berpikir Ilmiah

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Logika

Matematika

Deduksi

Dunia Rasional

Dunia Empiris

Khazanah

Ilmu

Ramalan

(Hipotesis

Induksi

Fakta

Pengujian

Statistika

Metode

Penelitian

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Leave a comment »

Soal/Tugas II Metodologi Penelitian

  1. Apa yang dimaksud pernyataan masalah, kesenjangan, dan rumusan masalah?
  2. Masalah penelitian harus layak diteliti, mengapa? Apa ciri-ciri kelayakannya?
  3. Buatlah pernyataan masalah, kesenjangan, dan rumusan masalah berdasarkan salah satu hasil observasi lapangan Anda!
  4. Lekas dikirim, lanjut tugas berikutnya.

Leave a comment »

Materi II Metodologi Penelitian

PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN

A. Arti Masalah

Masalah adalah titik tolak dari setiap kegiatan penelitian, sebab bagi seorang peneliti ‘masalah’ merupakan undangan untuk melakukan penelitian. Pada saat dan situasi seperti sekarang ini, di mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah begitu tinggi. tetapi di pihak lain masalah semakin banyak dan kompleks pula. Hal ini juga berarti perlu perhatian dan penanganan dari kita untuk pemecahan masalah-masalah tersebut. Sedangkan penelitian adalah bagian dari proses pemecahan masalah. Apa sebenamya masalah itu?

Masalah adalah suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi. antara harapan dan kenyataan. Misalnya, seharusnya untuk mencapai masyarakat yang sehat. semua anggota masyarakat harus membuang kotoran di kakus. harus minum air yang bersih, makan makanan yang bergizi cukup dan sebagainya. Tetapi pada kenyataannya banyak anggota masyarakat yang buang air besar di kebun atau kali, minum air yang tidak bersih dan tidak dimasak. makan yang hanya ala kadarnya. dan sebagainya. Hal ini berarti ada kesenjangan, dan ini adalah satu masalah kesehatan masyarakat.

Meskipun pengembangan ilmu dan teknologi kesehatan atau kedokteran telah sedemikian tingginya, misalnya ditemukannya metode dan teknik pemberantasan pcnyakit dan pencegahan penyakit rehabilitasi, tetapi di pihak lain menimbulkan bcrbagai macam masalah baru. Masalah-masalah ini seolah-olah sedang antri atau menunggu gilirannya untuk dipecahkan. Masalah yang satu belum terpecahkan masalah lain sudah muncul untuk segera dipecahkan. Contoh menonjol yang merupakan masalah keseharian masyarakat dan juga di Indonesia adalah masalah kanker dan penyakit AIDS (Acqured Immine Deficiency Syndrome). bertahun-tahun para ahli kedokteran bergelut untuk menentukan penyebab dan obat penyakit kanker tersebut. Sampai saat ini masalah kanker tersebut belum pemecahannya. namun sudah disusul masalah AIDS yang sangat menakutkan ini.

Pada hakikatnya masalah penelitian kesehatan itu adalah segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk rintangan dan hambatan atau kesulitan yang muacul pada bidang kesehatan kedokteran, yang perlu diatasi atau dipecahkan. Dari sini dapat dilihat bahwa di bidang kesehatan atau kedokteran, masalah tersebut sangat banyak dan kompleks, dan bahkan tidak, terbatas.

B. Kepekaan Terhadap Masalah Penelitian

Meskipun masalah penelitian itu selalu ada dan banyak, belum tentu mudah mengangkatnya sebagai masaiah penelitian. Untuk dapat mengangkat masalah-masalah tersebut ke dalam suatu masalah penelitian, diperlukan kepekaan terhadap masalah penelitian. Kepekaan seseorang dalam mengangkat masalah menjadi masalah penelitian diperlukan minat dan pengetahuan atau keahlian. Minat dan pengetahuan penelitian ini keduanya harus ada pada seseorang ingin meneliti. Minat saja belum menjamin kepekaan masalah penelitian. Minat dan pengetahuan atau keahlian sebagai dasar kepekaan terhadap masalah penelitian ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, antara lain:

1. Profesi

Profesi atau bidang pekerjaan seseorang dapat memadi sumber minat untuk melakukan penelitian. Dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya, orang tidak terlepas dari masalah-masalah yang bersangkutan dengan profesi tersebut. Semakin seringnya terpapar pada masalah-masalah tersebut. akan mendorong keinginan orang untuk segera dapat memecahkannya dengan cepat. Untuk kepentingan ini mengharuskan orang tersebut untuk berpikir dan berusaha mencari tahu dengan membaca dan berdiskusi dengan orang lain.

2. Spesialisasi

Spesialisasi atau keahlian khusus seseorang dapat menyebabkan orang tersebut peka terhadap masalah yang yang berkaitan dengan keahliannya tersebut. Apabila seseorang menekuni sesuatu bidang tertentu, maka orang tersebut menjadi sangat peka terhadap masalah yang berkaitan dengan bidang tersebut. Misalnya seorang dokter spesialis penyakit dalam, biasanya sangat peka terhadap masalah yang muncul sehubungan dengan penyakit dalam. Sedangkan seorang dokter ahli kesehatan masyarakat akan lebih peka terhadap penyakit-penyakit atau masalah kesehatan masyarakat. masalah epidemiologi, masalah pelayanan kesehatan masyarakat, masalah sanitasi lingkungan, dan lain sebagainya

3. Akademis

Orang yang sudah mengalami program pendidikan tinggi, biasanya ia telah mendalami tentang salah satu disiplin ilmu pengetahuan. Dengan pendalaman salah satu bidang ilmu pengetahuan tersebut, daya penalarannya akan lebih baik, dan mampu melihat prospek pengembangan tentang hal-hal yang didalaminya. Dalam kenyataannya semua teori yang mereka peroleh dibangku kuliah tidak semua dapat diterapkan. dan bahkan mungkin bertentangan sama sekalil. Keadaan semacam ini menunjukkan bahwa pada bidang tersebut terdapat sesuatu permasalahan yang perlu dipecahkan. Dengan demikian dapat disimpuikan bahwa program pendidikan akademis yang pernah ditempuh olch seseorang dapat menunjang dalam kepekaan terhadap suatu masalah penetitian.

4. Kebutuhan dan Praktek Kehidupun Sehari-Hari

Dengan menaruh perhatian terhadap kebutuhan serta dari pengalaman kehidupan sehari-hari. dapat menimbulkan kepekaan akan masalah. Seseorang yang secara saksama memperhatikan kebersihan anaknya sendiri atau anak tetangganya. kebersihan lingkungannya dan sebagainya, akan membantu dalam melihat berbagai masalah kesehatan. Hal ini sudah barang tentu dapat meningkatkan kepekaannya terhadap masalah.

5. Pengalaman Lapangan

Seseorang yang mempunyai banyak pengalaman lapangan baik pengalaman yang positif maupun negatif, akan menambah kepekaannya terhadap masalah di bidangnya. Pengalaman-pengalaman yang diperolehnya langsung dari lapangan akan menambah keyakinan mereka, betapa serius masalah tersebut, dan memperkuat usaha-usaha yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah itu. Hal ini berarti meningkatkan kepekaannya terhadap masalah yang besangkutan dengan bidangnya.

6. Bahan Bacaan atau Kepustakaan

Banyak membaca adalah suatu kebiasaan yang sangat baik. Sebab dari buku-buku atau hasil-hasil penelitian orang lain yang dipublikasikan, banyak informasi-informasi yang sangat bergunana bagi perluasan cakrawala pandang atau wawasannya. Di samping itu, banyak membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir seseorang. Dengan luasnya pengetahuan dan wawasannya, dapat menyebabkan orang mampu menggunakan penalaran dan berpikir dan selanjutnya membantu dalam meningkatkan kepekaan terhadap masalah.

Kepekaan terhadap masalah yang ada pada suatu bidang ilmu pengetahuan, seperti telah diuraikan di atas. memungkinkan seseorang untuk mencari kemungkinan pemecahannya. Selanjutnya usaha mencari pemecahan masalah yang ilmiah, sistematis. dan logis ini adalah dengan menggunakan metode penelitian.

C. Memilih Masalah Penelitian

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa bila kita akan melakukan penelitian, pertanyaan yang penama-tama harus dijawab adalah masalah apa yang layak untuk diteliti. Di bidang kesehatan atau kedokteran banyak masalah yang memerlukan penelitian, tetapi yang mana yang layak dilakukan penelitian? Untuk memilih masaiah yang layak dan relevan diteliti, di bawah ini akan diuraikan beberapa kriteria pemilihan masalah penelitian, antara lain:

1. Masih Baru

Pengertian ‘baru’ di sini maksudnya ialah masalah penelitian tersebut belum pernah diungkap atau dilakukan penelitian oleh orang lain. Dengan kata lain, masalah tersebut masih hangat-hangatnya di masyarakat. Hal ini penting agar tidak terjadi usaha yang sia-sia, karena sudah pernah dilakukan oleh orang lain. Di sinilah perlunya banyak membaca literatur atau hasil-hasil publikasi penelitian lain atau diskusi dengan pihak-pihak lain. Tanpa banyak membaca, kita tidak tahu apakah masalah penelitian kita sudah dijawab oleh penelitian lain atau belum.

2. ­Aktual

Masaiah penelitian yang aktual di sini diartikan masalah tersebut benar-benar terjadi atau berlangsung di dalam masyarakat. Masalah penelitian tidak boleh mengawang atau tidak berpijak pada kenyataan masyarakat. Hal ini juga berarti bahwa masalah tersebut harus menjadi masalahnya masyarakat. bukan masalahnya peneliti. Untuk memperoleh masalah yang aktual ini, penulis harus banyak melakukan kunjungan lapangan, berdialog dengan masyarakat atau dengan ahli-ahli yang bersangkutan dengan. bidang yang akan diteiti.

3. Praktis

Suatu penelitian untuk kepentingan apa pun dan jenis penelitian apa pun selalu memerlukan sumber daya, baik tenaga. pikin dan waktu. Untuk itu masalah penelitian tersebut harus mempunyai nilai yang praktis; artinya, hasil penelitian harus dapat menunjang kegiatan praktis. Masalah yang tidak mempunyai kepentingan praktik tidak layak untuk diangkat menjadi masalah penelitian, sebab hanya merupakan suatu pemborosan atau penghamburan sumber daya saja.

4. Memadai

Masalah yang akan diangkat menjadi masalah penelitian harus dibatasi ruang lingkupnya, tidak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu sempit. Masalah yang terlalu luas akan menghasilkan penelitian yang jelas, dan juga akan memakan sumber daya yang besar. Sebaliknya masalah yang terlalu sempit akan menghasilkan sesuatu yang kurang berbobot. Oleh sebab itu masalah harus dibatasi. Disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia meskipun tidak terlalu sempit. Dengan kata lain, masalah yang akan diangkat menjadi masalah penelitian tersebut harus memadai.

5. Sesuai dengan Kemampuan Peneliti

Seseorang yang akan melakukan penelitian harus mempunyai kemampuan penelitian dan kemampuan di bidang yang akan ditelitinya. Apabila ia tidak mempunyai kemampuan-kemampuan tersebut barang tentu hasil penelitiannya kurang dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi ilmiah (akademis) maupun praktik yang akan meneliti di bidang kesehatan atau kedokteran, dengan sendirinya haris menguasai pengetahuan tentang kesehatan dan kedokteran.

6. Sesuai dengan Kebijakan Pemerintah.

Masalah-masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, undang-undang pemerintah, ataupun adat istiadat masyarakat, tidak dapat diangkat menjadi masalah penelitian. Sebab masalah-masalah ini di samping bertentangan dengan kebijaksanaan tersebut, juga dapat mengundang kekuatan sosial maupun politik yang dapat merintangi dan menghambat jalannya penelitian.

7. Ada yang mendukunng

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa penelitian apa pun memerlukan biaya dan biaya ini biasanya dapat diperoleh dari instansi-intansi pendukung atau sponsor, baik swasta maupun pemerintah. Agar penelitian tersebut dapat dibiayai oleh sponsor, maka masalah yang dipilih harus disesuaikan dengan masalah yang dirasakan oleh para sponsor tersebut.

Kriteria-kriteria ini bukanlah kriteria untuk memilih topik penelitian, tetapi kriteria untuk memilih masalah yang akan dijadikan titik tolak untuk meneliti. Dengan dipilihnya masalah penelitian yang berdasarkan kriteria tersebut diharapkan akan menghasilkan kegiatan penelitian yang relevan dengan kebutuhan program di bidang yang bersangkutan.

Sebelum melakukan pemilihan masalah penelitian, pertanyaan-pertanyaan di bawah ini kiranya perlu dijawab agar dapat membantu kita dalam pemilihan masalah yang relevan.

a. Apakah masalah yang akan kita teliti itu merupakan masalah yang sedang hangat di dalam masyarakat pada saat ini?

b. Apakah masalah tersebut benar-benar ada di dalam masya­rakat, atau apakah aktual?

c. Sejauh mana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan masalah tersebut?

d. Apakah masalah terbebut mempengaruhi kelompok tertentu misalnya ibu hamil, bayi, atau anak balita?

e. Apakah masalah lersebut berhubungan dengan masalal sosial, kesehatan, atau ekonomi yang luas?

f. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan aktivitas program yang sedang berjalan?

g. Siapa lagi yang tenarik atau terlibat pada masalah tersebut?

D. Pertanyaan Penelitian

Perlu dibedakan antara pernyataan masalah (problem statement) dan pertanyaan penelitian (research question). Pernyataan masalah adalah suatu pernyataan adanya masalah, berisi tentang deskripsi fakta yang ada pada saat itu. Sedangkan pertanyaan penelitian adalah suatu bentuk pertanyaan yang menghendaki jawaban dari penelitian yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, pertanyaan penelitian adalah suatu selalu dalam bentuk kalimat tanya. Kedua hal ini selalu berhubungan. Untuk jelasnya di bawah ini akan diberikan beberapa contoh.

Contoh 1

Masalah penelitian:

Kabupaten X terletak di Provinsi Jawa Barat, daerahnya termasuk subur. Pendapatan per kapita penduduknya melebihi pendapatan per kapita nasional. Sarana transportasi sangat baik, penduduk yang buta huruf relatif sangat rendah. Program-program pembangunan termasuk program kesehatan dan keluarga berencana sudah cukup banyak dilaksanakan. Tetapi angka kematian anak di kabupaten ini masih cukup tinggi, jauh di atas angka nasional.

Kesenjangan:

Kondisi geografis, sosial, dan ekonomi kabupaten tersebut seharusnya rnenjamin angka kematian anak yang rendah, tetapi kenyataannya angka kematian anak tersebut tinggi.

Pertanyaan penelitian:

Faktor-faktor apa yang menyebabkan tingginya angka kematian anak di Kabupaten X tersebut?

Contoh 2

Masalah Penelitian:

Hasil survei Keluarga Berencana di suatu provinsi, diketemukan adanya perbedaan angka prevalensi pemakaian kontrasepsi yang besar antara kecamatan-kecamatan di provinsi tersebut, meskipun semua kecamatan tersebut menerima pelayanan Keluarga Berencana yang sama.

Kesenjangan :

Semua kecamatan di provinsi tersebut seharusnya mempunyai angka prevalensi pemakaian kontrasepsi yang sama, tetapi kenyataannya terdapat perbedaan yang mencolok di antara kecamatan-kecamatan tersebut.

Pertanyaan penelitian:

Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam angka prevalensi pemakaian kontrasepsi tersebut?

Contoh 3

Pernyataan penelitian:

Penyuluhan gizi di desa A telah dilaksanakan dengan gencar, baik melalui ceramah-ceramah maupun penyebaran selebaran-selebaran yang berisi petunjuk makanan bergizi. Kegiatan ini sudah hampir 2 tahun dilaksanakan, tetapi hasil survei menunjukkan perilaku gizi anak balita di desa itu pun masih rendah pula. Rendahnya perilaku gizi ibu tentang gizi merupakan salah satu petunjuk bahwa penyuluhan gizi di desa ini kurang berhasil.

Kesenjangan:

Dengan dilakukan penyuluhan gizi di desa ini seharusnya meningkatkan pengetahuan gizi bagi ibu-ibu dan selanjutnya dapat meningkatkan perilaku gizi ibu-ibu tersebut rentang gizi. Dengan meningkatnya perilaku gizi seharusnya membawa dampak| terhadap peningkatan status gizi anak balita. Tetapi ternyata tidak terjadi yang demikian.

Pertanyaan penelitian:

Mengapa penyuluhan gizi yang dilakukan dengan ceramah-ceramah dan penyebarluasan selebaran-selebaran tentang gizi tersebut tidak atau kurang berpengaruh terhadap peningkatan perilaku gizi dan peningkatan status gizi anak balita.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.