MERANCANG KUESIONER

A. PENDAHULUAN

Di dalam pengumpulan data dengan cara apa pun, selalu diperlukan suatu alat yang disebut “instrumen pengumpulan data”. Sudah barang tentu macam alat pengumpul data ini tergantung pada macam dan tujuan penelitian. Untuk penelitian ilmu-ilmu alam/ eksakta (natural sciences) sudah barang tentu diperlukan instrumen yang lain dengan penelitian ilmu-ilmu sosial (social sciences). Demikian juga alat-alat pengumpulan data untuk ilmu-ilmu sosial pun bermacam-macam sesuai dengan cara dan tujuan dari pengumpulan data tersebut.

Dalam bagian ini hanya akan dibahas tentang alat penpengumpulan data yang disebut “kuesioner”, yang biasanya dipakai di dalam wawancara (sebagai pedoman wawancara yang berstruktur) dan angket. Kuesioner di sini diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, di mana responden (dalam hal angket) dan interviewer (dalam hal wawancara) tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-tanda tertentu. Dengan demikian kuesioner sering juga disebut “daftar pertanyaan” (formulir).

Pentingnya kuesioner sebagai alat pengumpul data adalah untuk memperoleh suatu data yang sesuai dengan tujuan penelitian tersebut. Oleh karena itu, isi dari kuesioner adalah sesuai dengan hipotesis penelitian tersebut Kuesioner adalah bentuk penjabaran dari hipotesis.

Oleh karena itu suatu kuesioner harus mempunyai beberapa persyaratan, antara lain :

- Relevan dengan tujuan penelitian.

- Mudah ditanyakan.

- Mudah dijawab.

- Data yang diperoleh mudah diolah (diproses) dan sebagainya.

B. JENIS DAFTAR PERTANYAAN

Di dalam pengumpulan data sering digunakan 3 macam kuesioner/ formulir, yakni :

  1. Kuesioner (formulir) untuk keperluan administrasi. Di mana-mana formulir ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui saluran-saluran administrasi. Oleh karena itu jenis formulir ini lebih dikaitkan dengan keperluan-keperluan administrasi. Pengisian formulir ini sepenuhnya oleh pihak responden tetapi biasanya ada petunjuk pengisian.

Contoh: – Formulir masuk;

- Kaitu klinik, dan sebagainya.

  1. Kuesioner untuk observasi (from of observation). Agar observasi itu terarah dan dapat memperoleh data yang benar-benar diperlukan, maka sebaiknya di dalam melakukan observasi juga mempergunakan daftar pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu. Kuesioner ini mencakup hal-hal yang diselidiki/ diobservasi.
  2. Kuesioner untuk wawancara (from for quesioning).

Jenis kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui wawancara (interviu). Alat ini lebih digunakan untuk memperoleh Jawaban yang akurat dari responden. Wawancara.dapat dilakukan dengan :

- Personal interview (door to door).

- Telepon interview.

Jenis kuesioner inilah yang akan sedikit dibahas dalam bab ini.

C. PRINSIP DASAR PERANCANGAN KUESIONER

Sebelum kita mendesain suatu kuesioner lebih dahulu kita harus rnemperhitungkan kesulitan-kesulitan umum yang sering dijumpai di dalam interview, antara lain :

a. Responden sering tidak/ kurang mengerti maksud pertanyaan sehingga jawaban yang diberikan tidak ada hubungan dengan yang diajukan atau tidak memperoleh data yang relevan.

b. Responden mengerti pertanyaannya dan mungkin mempunyai informasinya. tetapi responden kurang tepat mengingatnya atau lupa.

Contohnya : “Apakah ada anggota keluarga di sini yang sakit pada tahun ini?” Untuk pertanyaan ini sudah barang tentu sulit mengingatnya. Maka pertanyaan ini perlu disederhanakan. Misal: “Selama 3 bulan terakhir ini siapa saja di dalam rumah ini yang sakit?”

c. Responden seringtidak bersediamenjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat bersifat pribadi, misal, tentang jumlah pendapatan/ gaji, jumlah perkawinan, dan sebagainnya.

d. Responden kadang-kadang mengerti pertanyaannya, tetapi ia tidak mampu memberikan jawabannya, atau menguraikan jawaban. Misalnya : “Apa maksud Ibu menjadi akseptor KB?”

e. Responden mengerti pertanyaannya dan tahu jawabannya, tetapi pertanyaannya kurang tepat diajukan pada responden. Misalnya, responden tidak/ belum mempunyai anak, ditanyakan di mana tempat melahirkan.

Oleh karena itu, dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan, hal-hal seperti tersebut perlu diperhitungkan. Untuk itu dalam mendesain suatu kuesioner, sebaiknya mengingat persyaratan sebagai berikut:

1. Pertanyaan hendaknya “jelas” maksudnya:

a. Menggunakan kata-kata yang tepat dan jelas artinya. Penggunaan kata atau istilah yang sulit atau ganjil akan memperoleh jawaban yang “bias”. Demikian juga penggunaan kata-kata ilmiah akan membingungkan responden.

b. Pertanyaan tidak terlalu luas atau indifinit. Pertanyaan yang sangat luas akan membingungkan responaen untuk menjawab. Misalnya; “Di manakah Ibu melahirkan?” Pertanyaan ini ja­wabannya sangat luas, sebab kemungkinan ibu tersebut sudah beberapa kali melahirkan dan tempatnya berbeda-beda pula. Maka sebaiknya dibatasi, misal. “Di mana Ibu melahirkan anak Ibu yang terakhir?”

c. Pertanyaan tidak terlalu panjang, atau menggabungkan bebera­pa pertanyaan. Misalnya: “Apakah Ibu sudah menjadi akseptor KB dan apa sebabnya?” Pertanyaan ini menghendaki 2 macam jawaban, sehingga menyulitkan responden. Maka sebaiknya dijadikan 2 pertanyaan.

d. Pertanyaan tidak boleh memimpin (leading), misalnya: “Ibu sudah mengikuti KB bukan?” Pertanyaan seperti ini sudah me­mimpin, seolah-olah si ibu tersebut sudah dipojokkan untuk menjawab “Sudah.” Sebaiknya ditanyakan, “Apakah Ibu sudah memakai cara-cara mencegah Kehamilan?”

e. Sebaiknya dihindari pertanyaan yang dobel negatif, misalnya : “Bukankah keluarga yang sudah 3 anaknya sebaiknya tidak menambah anak lagi?” Pertanyaan ini akan membingungkan si ibu tersebut dalam menjawabnya. Sebaiknya diubah, “Jumlah anak suatu keluarga itu sebaiknya cukup 3 orang saja. Bagaimana pendapat Ibu?”

2. Pertanyaan hendaknya membantu ingatan responden

Hal ini berarti bahwa pertanyaan sedapat mungkin harus memudahkan yang bersangkutan (responden) unruk mengingat kembali hal-ha1 yang akan diperlukan/ dijawab. Misalnya, akan menanyakan umur responden waktu melahirkan anak pertama kali. Sebelumnya perlu ditanyakan, tahun berapa yang bersangkutan (responden) itu lahir, tahun berapa ia melahirkan anaknya yang sulung, dan sebagainya.

3. Pertanyaan itu menjamin responden untuk dengan mudah mengutarakan jawabannya. Hal ini dimaksudkan pertanyaan itu harus menyediakan berbagai perkiraan jawaban yang sudah dirumuskan sehingga responden tidak disulitkan untuk memikir jawabanyang mungkin sukar dirumuskan.

Contoh : “Apa alasan Ibu mengikuti KB?”.

1. £ Penyakit

2. £ Ekonomi

3. £ Kesejahteraan ibu

4. £ Dipaksa suami

5. £ Lain-lain.

Jawaban ini harus dibacakan setelah responden mengalami kesulitan atau sulit untuk menjawab.

4. Pertanyaan hendaknya menghindari “bias”. Jawaban yang bias kadang-kadang terjadi karena responden tidak mau menjawab keadaan yang sebenarnya, dan memberikan jawaban yang lain. Jawaban-jawaban yang bias ini paling sering terjadi berhubung dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai umur, penghasilan, kebiasaan yang kurang baik, dan sebagainya. Untuk menguasai hal ini maka dalam menanyakan mengenai icome atau pun umur, sebaiknya tidak ditanyakan mengenai jumlah tepatnya, melainkan menanyakan dalam bentuk “range “.

Misalnya : “Berapa umur Ibu sekarang?”

1. £ 20 – 25 tahun

2. £ 25 – 30 tahun

3. £ 30 – 35 tahun

4. £ 35 – 40 tahun

dan sebagainya.

5. Pertanyaan hendaknya memotivasi responden untuk menjawab. Hal ini berarti akan memungkinkan responden untuk menjawab semua pertanyaan. Untuk itu maka diperlukan susunan pertanyaan atau kata-kata yang tepat. Usahakan agar pertanyaan-pertanyaan permulaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyenangkan responden. Pertanyaan yang berhubungan dengan income, ataupun pertanyaan yang memerlukan ingatan, sebaiknya diletakkan pada bagian akhir dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

6. Pertanyaan hendaknya dapat menyaring responden. Artinya, bila ada pertanyaan-pertanyaan yang khusus untuk si R, tertentu, harus didahului dengan pertanyaan-pertanyaan penyaring. Sebab apabila tidak, pertanyaan tersebut tidak akan terjawab oleh responden yang lain.

Misalnya : Akan menanyakan kontrasepsi apa yang dipakai oleh responden. Pertanyaan ini tidak atau sulit dijawab oleh responden yang belum mengikuti KB. Maka sebaiknya sebelum menanyakan pertanyaan ini ada pertanyaan penyaringanya, “Apa Ibu sudah mengikuti KB? ” Apa­bila “Ya. ” jawabannya, baru ditanyakan kontrasepsi mana yang dipakai. Tetapi bilajawaoannya “Tidak ” atau ” Belum.” ya tudak usah atau tidak perlu ditanya-kan lebih lanjut.

Contoh : Apakah Ibu sudah mengikuti Keluarga Berencana?”

01 £ Sudah

02 £ Belum (langsung pertanyaan No. 15)

10 Alat/kontrasepsi/ menggunakan apa ibu mengikuti KB.

01 £ Pil

02 £ Pijat

03 £ Jamu

dan sebagainya.

15 “Mengapa Ibu belum mengikuti KB?

01. £ Belum mempunyai anak

02. £ Baru mempunyai anak satu

03. £ Tidak setuju dengan KB.

Dan sebagainya.

7. Pertanyaan hendaknya sesederhana mungkin, sebab makin sederhana makin tegas sifatnya. Pertanyaan yang tidak tegas, misalnya: “Apakah Saudara setuju dengan dokter Puskesmas itu?”. Sikap setuju atau tidak setuju bukan ditujukan kepada orang, tetapi kepada perbuatannya, kebijaksanaannya, dan sebagainya.

D. UNSUR-UNSUR DALAM KUESIONER

Dalam penyusunan. sebuah kuesioner ada 4 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu jenis,. bentuk, isi,- dan sequences (urutan-urutan) pertanyaan.

1. Jenis Pertanyaan

Yang perlu diperhatikan pada jenis pertanyaan ini ialah sifat data yang mana yang akan diperoleh. Berdasarkan ini, suatu daftar pertanyaan dapat menggali 3 hal, yaitu :

a. Pertanyaan mengenai fakta

Pertanyaan ini menghendaki jawaban fakta-fakta dari responden. Biasanya mengenai data-data demografi, misalnya pertanyaan tentang sex, income, pendidikan, agama, status perkawinan, jumlah anak, dan sebagainya.

b. Pertanyaan mengenai pendapat dan sikap

Kedua hal ini sulit untuk membedakannya. Sebab kadang-kadang sikap seseorang itu mencerminkan dari pendapatnya. Atau pendapat seseorang itu merupakan peryataan dari sikapnya. Oleh karena itu pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap dan pendapat adalah mengebali jawaban-jawaban mengenai perasaan, kepercayaan, konsepsi/ pendapat/ ide, dan sebagainya.

c. pertanyaan-pertanyaan informant

Pertanyaan-pertanyaan ini menghendaki jawaban-jawaban dari responden mengenai apa yang telah diketahui, apa yang telah didengar dan seberapa jauh apa yang diketahui serta dari mana mereka tahu, dan sebagainya.

2. Bentuk Pertanyaan

Pada prinsipnya ada 2 bentuk pertanyaan, yaitu “open ended question“dan “‘closed ended question” atau “structured“.

Pertanyaan Terbuka (Open Ended)

a. Free response question

Pertanyaan ini memberikan kebebasan kepada responden untuk menjawab. Pada umumnya jenis pertanyaan ini dipergunakan untuk memperoleh jawaban mengenai pendapat atau motif tertentu dari responden.

Contoh : Bagaimana pendapat Ibu mengenai alat-alat kontra-sepsi-IUD?” Dari pertanyaan ini responden diberi kebebasan untuk menjawab apa saja yang diketahuinya, apa yang dipikir tentang alat tersebut. Dengan demikian jawaban akan mempunyai banyak variasi sehingga menyulitkan tabulasi.

b. Directed response question

Seperti halnya dengan free response, jenis pertanyaan ini juga memberikan kebebasan menjawab bagi respondennya, tetapi sudah sedikit diarahkan. Apabila contoh tersebut di atas diubah menjadi penanyaan langsung, maka cukup memilih salah satu aspek dari penggunaan IUD tersebut. Misalnya: “Bagaimana perasaan Ibu selama menggunakan IUD ini?” Di sini pertanyaan sudah diarahkan kepada “perasaan” dari pemakaian IUD tersebut pada responden. Dapat juga ditanyakan aspek-aspek lainny, misalnya efektivitasnya terhadap pencegahan kehamilan, efek sampingnya, dan sebagainya.

Catalan : Bentuk pertanyaan terbuka ini meskipun sulit untuk ditabulasi, tetapi mempunyai keuntungan dapat menggali semua pendapat, keinginan. dan sebagainya dari responden, sehingga kualitas data yang diperoleh dapat terjamin.

Bentuk pertanyaan tertutup (Closed End zd)

Bentuk pertanyaan yang demikian mempunyai keuntungan mudah mengarahkan jawaban responden,. dan juga mudah diolah (ditabulasi). Tetapi kurang mencakup atau mencerminkan semua jawaban dari responden. Bentuk pertanyaan ini mempunyai beberapa variasi, antara lain:

a. Dichotomous choice

Dalam pertanyaan ini hanya disediakan 2 jawaban/ alternatif, dan responden hanya memilih satu diantaranya. Biasanya pertanyaan yang menyangkut pendapat, perasaan atau sikap responden.

Contoh : 1. Apakah Ibu pemah membicarakan masalah KB dengan teman-teman/ tetangga Ibu?”

1. £ Pernah

2. £ Tidak Pernah

2. “Apakah ibu mengetahui tentang Keluarga Berencana?”

1. £ Ya

2. £ Tidak

Keuntungan pertanyaan jenis ini ialah mudah mengolah/ tabulasinya. Disamping itu, menjawabnya pun tidak sulit karena hanya memilih satu diantara dua jawaban. Pertanyaan ini dapat digunakan, bila kita sudah yakin dan tahu benar kemungkinan jawaban-jawabannya dari pertanyaan yang akan diajukan.

b. Multiple Choice

Pertanyaan ini menyediakan beberapa jawaban/alternatif dan responden hanya memilih satu diantaranya yang sesuai dengan pendapatnya.

Contoh : Ada beberapa hal/alasan yang menyebabkan orang yang menggunakan cara-cara KB/ikut Keluarga Berencana “Menurut pendapat Ibu, alasan mana yang paling mendorong Ibu untuk melaksanakan Keluarga Berencana?”

1. £ Penyakit/Komplikasi waktu hamil/ melahirkan

2. £ Kesejahteraan keluarga

3. £ Jumlah anak

4. £ lain-lain (sebutkan) ………

c. Check List

Bentuk ini sebenarnya hanya modifikasi dari multiple choice. Bedanya, responden diberikan kebebasan untuk memilih jawaban sebanyak mungkin yang sesuai dengan apa yang dikatakan. Dilihat, dipunyai, atau pendapatnya.

Contoh : “Mengalah kehamilan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara apa saja yang sudah Ibu Ketahui?”

1. £ Pil

2. £ IUD

3. £ Condom

4. £ Injeksi

5. £ Pijat/ Urut

6. £ “Douche”

7. £ Sistem kalender/ pantang berkala

8. £ Senggama terputus

9. £ Vasektomi

10. £ Tubektomi

99. lain-lain (Sebutkan) ….

jawaban responden lebih dari satu, bahkan mungkin semua jawaban yang tersedia diketahui semua (di check). Agar diperhatikan di sini, bahwa dalam membacakan pertanyaan/ menanyakan jawaban (option) tersebut perlu di rotasi (digonti-ganti) untuk mengurangi bias.

d. Rangking Question

Seperti pada check list, tetapi jawaban responden diurutkan dari jawaban-jawaban yang terswedia sesuai dengan pendapat, pengetahuan atau perasaan responden, biasanya menyangkut gradasi dari pendapat, sikap dan sebagainya. Jadi responden diminta untuk mengurutkan jawaban-jawaban yang tersedia sesuai dengan pendapatnya.

Contoh : Menurut Ibu/ Bapak/ Saudara, kebutuhan apakah yang paling diutamakan?” (Sesuai dengan urutan kepentingannya.)

1. £ Pendidikan

2. £ Perumahan

3. £ Kesehatan

4. £ Pekerjaan

5. £ Hiburan/ rekreasi

6. £ lain-lain ( sebutkan ….. )

3. Isi Pertanyaan

Isi pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan tujuan dari penelitian serta tergantung pada dalam atau dangkalnya data yang digali. Banyaknya pertanyaan sangat relatif, tergantung dari luasnya penelitian tersebut. tetapi perlu diperhatikan pertanyaan yang terlalu banyak akan memakan waktu yang panjang dapat menimbulkan kebosanan dari responden. Apabila responden sudah bosan, maka jawaban-jawaban akan “bias”. Sebagai pegangan sementara, jumlah pertanyaan yang optimal adalah, apabila pertanyaan tersebut dinyatakan akan memakan waktu 15 sampai dengan 30 menit, dan paling panjang 45 menit. Apabila pertanyaan tersebut terlalu panjang sehingga memakan waktu lebih dari 45 menit. Sebaiknya interviwer datang dua kali untuk responden yang sama.

4. Urutan Pertanyaan

Model pertanyaan (questionaire) dapat dibentuk dari 4 bagian, yakni : introduksi, pertanyaan pemanasan, pertanyaan demografi dan pertanyaan pokok.

a. Introduksi (pengantar)

Sebelum pertanyaan dimulai biasanya dibuka dengan judul penelitian tersebut. sesudah itu diberi semacam kalimat pengantar, yang menjelaskan kepada responden tentang maksud atau tujuan dari penelitian tersebut juga tentang identitas responden.

Contoh :

Penelitian Tentang Jangkauan Pelayanan

Kesehatan di DKI Jakarta

gb22

Responden No. : ……………………………………..

Alamat : ……………………………………..

: ……………………………………..

Tanggal di isi : ……………………………………..

Dan sebagainya

b. Pertanyaan Pemanasan

Adlah pertanyaan mengenai latar belakang responden, misalnya di mana dilahirkan, dari mana asalnya sudah berapa lama tinggal di kota tersebut, dan sebagainya.

c. Pertanyaan demografi

Biasanya pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan status pendidikan, pekerjaan, latar belakang etnis, agama, seks dan sebagainya, diletakkan pada urutan kedua, sekaligus sebagai pertanyaan pemanasan. Tetapi ada juga yang terpisah.

d. Pertanyaan-pertanyaan pokok

Adalah merupakan jantungnya kuesioner. Sebab tujuan penelitian atau data-data yang akan diperoleh akan tercakup didalam pertanyaan-pertanyaan ini. Dari sini digali semua data yang diperlukan dalam penelitian tersebut.

Setelah pertanyaan pokok selesai, maka sebaiknya kuesioner ditutup dengan pertanyaan untuk membuktikan kebenaran jawaban-jawaban semelumnya.

Pre Coding

Hasil jawaban dari suatu kuesioner selanjutnya akan diproses (dioleh) baik melalui ”coding sheet” atau dimasukkan ke dalam kartu kode, maupun dengan alat0alat elektronik (Computer). Agar memudahkan dalam proses ini maka sebaiknya tiap jawaban/ alternatif dari tiap pertanyaan diberi kode-kode tertentu, misalnya dengan huruf a, b, c dan sebagainya, atau dengan angka 1, 2, 3, dan sebagainya. Proses semacam ini diberi nama prakoding (pre coding). Untuk menjawab atas alternatif “lain-lain” biasanya diberi kode 9, 09 atasu 99.

Contoh : ”Apabila Bapak/ Ibu sakit kemana biasanya berobat?”

01. £ Diobati sendiri

02. £ Ke Puskesmas

03. £ Ke dukun

04. £ Ke dokter praktek

05. £ Ke mantri (sebutkan……………. )

E. UJI KUESIONER SEBAGAI ALAT UKUR

Setelah kuesioner sebagai alat ukur atau alat pengumpul selesai disusun, belum berarti kuesioner tersebut dapat langsung digunakan untuk mengumpulkan data. Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian perlu uji validitas dan rehabilitas. Untuk itu maka kuesioner tersebut harus dilakukan uji coba “trial” di lapangan. Respon yang digunakan untuk uji coba sebaiknya yang memiliki ciri-ciri res­ponden dari tempat di mana penelitian tersebut harus dilaksanan.

Agar diperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal maka sebaiknya jumlah responden untuk uji coba paling sedikit 20 orang. Hasil-hasil uji coba ini kemudian digunakan untuk-mengetahui sejauh mana alat ukur (kuesioner) yang telah disusun tadi memiliki validitas” dan “reliabilitas”. Suatu alat ukur hams mem-punyarkriteria “validitas” dan reliabilitas”.

F. VALIDITAS

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Apabila seorang anak balita beratnya 20 kg, maka timbangan yang digunakan untuk menimbang anak tersebut juga menunjukkan berat 20 Kg, bukan 19,,5 kg atau 20,5 kg Hal ini berarti timbangan. tersebut valid. Demikian pula kuesioner sebagai alat ukur harus mengukur apa yang ingin diukur. Apabila suatu kuesioner untuk mengukur pengetahuan responden “‘imunisasi” maka akan menghasilkan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh responden yang diukur.

Untuk mengetahui apakah kuesioner yang kita susun tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan itu mempunyai korelasi yang bermakna (construct validity). Apabila kuesioner tersebut telah memiliki validitas konstruk, berarti semua item (pertanyaan) yang ada di dalam kuesioner itu mengukur konsep yang kita ukur. Misalnya kita akan mengukur pengetahuan imunisasi TT bagi ibu hamil, maka kita susun pertanyaan-pertanyaan begini:

1. Apakah ibu pemah mendengar imunisasi TT?

2. Bila pemah, untuk siapa imunisasi itu diberikan?

3. Apa guna (manfaat) imunisasi itu diberikan?

4. Berapa kali imunisasi tersebut harus diterima?

5. Penyakit apa yang dapat dicegah dengan imunisasi TT?

6. Di mana ibu dapat memperoleh imunisasi TT tersebut ?

7. dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diberikan kepada sekelompok responden sebagai sarana uji coba. Kemudian pertanyaan-pertanyaan (kuesioner) tersebut diberi skor atau nilai jawaban n masing sesuai dengan sistem penilaian yang telah ditetapkan, misalnya:

2 untuk jawaban yang paling benar.

1 untuk jawaban yang mendekati benar

0 untuk jawaban yang salah.

Sebagai gambaran, misalnya distribusi skor untuk masing-masing pertanyaan dari 10 responden, sebagai berikut :


Distribusi Skor Tiap-Tiap Pertanyaan

gb7

Selanjutnya kita menghitung korelasi antara skor masing-masing pertanyaan dengan skor total, sehingga ada 10 pertanyaan di dalam kuesioner kita. Dengan demikian maka akan ada 10 uji korelasi, yaitu pertanyaan nomor 1 dengan total, pertanyaan 2 dengan total, pertanya­an 3 dengan total, dan seterusnya.

Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi “product moment” yang rumusnya sebagai berikut:


gb31

Lebih lanjut perhitungan ini dapat dilihat pada contoh di bawah ini Di bawah ini hanya akan diberikan contoh korelasi antara pertanyaan nomor 1 dengan skor total.

Kolerasi Pertanyaan 1 Dengan Skor Total

Responden

X

Y

X2

Y2

XY

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

2

2

2

2

1

2

1

2

2

2

14

15

13

16

13

12

13

16

12

14

4

4

4

4

1

4

1

4

4

4

196

225

169

256

169

144

169

256

144

196

28

30

26

32

13

24

13

32

24

28

N = 10

18

138

36

1924

250

Keterangan :

X = Pertanyaan nomor 1

Y = Skor total

XY = Skor pertanyaan nomor 1 dikali skor total

Selanjutnya memasukan angka-angka tersebut ke dalam rumus di atas, sebagai berikut :

gb41

Setelah dihitung semua korelasi antara masing-masing pertanyaan skor total, misalnya diperoleh hasil sebagai berikut:

1 : = 0,190

2 : = 0,720

3 : = 0,640

4 : = 0,710

5 : = 0,550

6 : = 0,810

7 : = 0,690

8 : = 0,720

9 : = 0,660

10 : = 0,150

Untuk mengetahui apakah nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan itu significant, maka perlu dilihat pada tabel nilai product moment, yang biasanya ada di dalam buku-buku statistik.

Untuk jumlah responden 10, berdasarkan tabel, taraf significancy yang diperlukan ialah 0,632. Oleh sebab itu, nilai korelasi dari perta­nyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut yang memenuhi taraf significancy (di atas 0,632) adalah pertaayaan: 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9. Sedangkan nomor 1, 5, dan 10 tidak bermakna. Selanjutnya untuk memperoleh alat ukur yang valid, maka pertanyaan nomor 1, 5, dan 10 tersebut hams diganti atau direvisi, atau di “drop” (dihilangkan).

G. RELIABILITAS

Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama.

Apabila tinggi seorang anak diukur dengan sebuah meteran kayu, dan Pengukuran dilakukan berkali-kali dengan meteran yang sama, maka hasilnya (tinggi anak tersebut) akan tetap atau tidak berubah. Tetapi apabila meteran tersebut dibuat dari plastik misalnya maka hasilnya akan beruubah-ubah (tidak tetap). Hal ini akan tergantung bagaimana kita memegang meteran tersebut. Apabila cara mengukurnya (memegangnya) agak kendor. hasilnya akan lebih rendah. Tetap bila memegangnya dengan tarikan yang kuat. maka kemungkinan hasiinya akan lebih tinggi.

Oleh sebab itu meteran (alat ukur) yang dibuat dari kayu menghasilkan pengukuran yang lebih reliabel bila dibandingkan dengan meteran yang dibuat dari plastik. Dengan kata lain, meteran kayu hasilnya konsisten (ajeg), sedangkan meteran plastik hasil atau kurang konsisten.

Demikian juga kuesioner sebagai alat ukur untuk gejala-gejala sosial (non fisik) harus mempunyai reliabilitas yang tinggi. Untuk itu sebelum digunakan. untuk penelitian harus dites (diuji coba) sekurang-kurangnya dua kali. Uji coba tersebut kemudian diuji dengan tes menggunakan rumus korelasi product moment, seperti tersebut diatas. Perlu dicatat, bahwa perhitungan reliabilitas harus diiakukan hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki validitas. Dengan demikian harus menghitung validitas terlebih dahulu sebelum menghitung reliabilitas.

Cara perhitungan reliabilitas suatu alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik, yaitu :

  1. Teknik Tes-Tes Ulang

Dengan teknik ini kuesioner yang sama diteskan (diujikan) kepada sekelompok responden yang sama sebanyak dua kali. Sedang waktu antara tes yang pertama dengan yang kedua, sebaiknya 1 terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Sedang waktu antara 15-30 hari adalah cukup memenuhi persyaratan. Apabila selang waktu terlalu pendek, kemungkinan responden masih ingat pertanyaan-pertanyaan pada tes yang pertama. Sedangkan kalau selang waktu itu terlalu lama, kemungkinan pada responden sudah terjadi perubahan dalam variabel yang akan diukur.

Hasil pengukuran pertama dikorelasikan dengan hasil pengu­kuran (tes) yang kedua dengan menggunakan teknik korelasi product moment tersebut di atas. Sebagai gambaran dapat diikuti contoh berikut :

Pengukuran pertama

(Skor Total Tiap Responden)

14

15

13

16

13

12

13

16

12

14

14

Pengukuran kedua

(Skor Total Tiap Responden)

15

15

13

15

14

14

13

16

13

13

13

Hasil ini dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus se­perti tersebut di depan. Bila hasilnya (angka korelasinya) sama atau lebih dari angka kritis pada derajat kemaknaan: P 0,05 (lihat tabel), maka alat ukur atau kuesioner tersebut reliabel. Tetapi bila angka (hasil) yang diperoleh di bawah angka kritis, maka kuesioner terse­but tidak reliabel sebagai alat ukur.

  1. Teknik Belah Dua

Dengan menggunakan teknik ini berani alat pengukur (kuesio­ner) yang telah disusun dibelah atau dibagi menjadi dua. Oleh sebab itu, pertanyaan dalam kuesioner ini harus cukup banyak (memadai), sekitar 40-60 pertanyaan. Langkah-langkah yang diiakukan antara lain:

a. Mengajukan kuesioner tersebut kepada sejumlah responden, kemudian dihitung validitas masing-masing pertanyaannya. Pertanyaan-pertanyaan yang valid dihitung sedangkan yang tidak valid dibuang.

b. Membagi pertanyaan-pertanyaan yang valid tersebut menjadi dua kelompok secara acak (random). Separo masuk ke dalam belahan pertama, separonya lagi masuk ke dalam belahan kedua

c. Skor untuk masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan sehingga akan menghasilkan 2 kelompok skor total, yakni untuk belahan pertama dan belahan kedua.

d. Melakukan uji korelasi dengan rumus korelasi product moment tersebut, antara belahan pertama dengan belahan kedua.

e. Selanjutnya dengan daftar seperti uji korelasi sebelumnya dapat diketahui reliabilitas kuesioner tersebut.


  1. Teknik Paralel

Dengan menggunakan teknik ini kita membuat dua alat pengukur (kuesioner) untuk mengukur aspek yang sama. Kedua kuesioner tersebut diteskan (dicobakan) terhadap sekelompok responden yang sama. Kemudian masing-masing pertanyaan pada kedua kuesioner tersebut dicari (dihitung) validitasnya. Pertanyaan-pertanyaan dari kedua alat ukur (kuesioner) tersebut, yang tidak valid dibuang dan yang valid dihitung total skornya, lalu skor total dari masing-masing responden dari kedua kuesioner tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan teknik korelasi product moment seperti contoh-contoh tersebut di depan.

gb5

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: