Archive for Januari, 2009

LAPORAN PENELITIAN

Suatu penelitian tidak hanya berhenti pada pengumpulan dan anailisis data saja. Penelitian dikatakan selesai apabila hasil penelitian tersebut ditulis dalam bentuk laporan penelitian dan dipublikasikan. Benruk dan format laporan penelitian itu bermacam-macam. Tetapi pada prinsipnya suatu bentuk penulisan laporan penelitian yang perlu diperhatikan mencakup isi laporan dan bentuk atau format laporan.

A. ISI LAPORAN

Laporan suatu kegiatan penelitian memuat berbagai aspek yang dapar memberi gambaran kepada orang lain atau pembaca tenrans seiuruh kegiatan, langkah, metode, teknik maupun hasil dari penelitian tersebut. Laporan penelitian sebagai salah satu bentuk laporan ilmiah mempersoalkan :

a. Masalah apa yang diteliti dan cara mempersoaikan masalah tersebut.

b. Kepada siapa hasil penelitian tersebut berlaku, atau seberapa jauh hasil penelitin tersebut berlaku (mewakili populasi).

c. Pendekatan teknis apa yang dipakai.

d. Hasil penelitian.

e. Kesimpulan penelitian.

Persoalan ”masalah” penelitian merupakan deskripsi tentang masalah dalam suatu rumusan yang operasional, termasuk analisis dan pembatasan serta reori-teori yang mendasari perumusan masalah ter­sebut. Persoalan kepada siapa hasil penelitian itu berlaku, adalah menyangkut populasi dan sampel penelitian serta teknik pengambilan sampel yang digunakan. Sedangkan pendekatan teknis, mempersoalkan prosedur atau metodologi, alat dan teknik pengumpulan data yang digunakan, serta proses analisis data. Hasil penelitian, mempersoalkan klasifikasi data serta pengolahannya. Hal yang terakhir adalah masalah kesimpulan, merupakan generalisasi hasil penelitian.

Dengan uraian atau mempersoalkan berbagai faktor sebagai bagian dari isi laporan tersebut pembaca dapat mempunyai gambaran tentang pelaksanaan secara keseluruhan, sekaligus dapat mengevaluasi penelitian tersebut “bias” atau tidak. Sebab, penelitian yang bias akan menghasilkan kesimpulan atau generalisasi yang menyimpang sehingga hasil penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

B. BENTUK ATAU FORMAT LAPORAN PENELITIAN .

Agar hasil penelitian mudah dipahami oleh orang lain, maka hasil tersebut harus disusun dalam format dan sistematika yang baik. Bentuk atau format laporan penelitian ini tiap perguruan tinggi atau tiap lembaga penelitian mempunyai cara yang berbeda-beda. Tetapi secara umum laporan penelitian sebagai karya ilmiah terdiri dari tiga bagian, yakni: bagian pendahuluan, bagian inti/ isi laporan dan bagian penutup. Perincian dari bagian-bagian tersebut adalah sebagai berikut: .

1. Bagian pendahuluan, yang terdiri dari :

a. Halaman judul

b. Kata Pengantar

c. Daftar isi

d. DaftarTabel

e. Daftar Gambar, Grafik atau Diagram (Ilustrasi), apabila ada.

2. Bagian inti/ isi laporan, terdiri dari :

a. Pendahuluan, berisi tentang:

1) Latar belakang masalah

2) Pernyataan masalah

3) Tujuan penelitian

4) Perumusan hipotesis

5) Definisi variabel-variabel

b. Bahan danc ara (metode penelitian), terdiri dari:

1) Deskripsi bahan (daerah) penelitian

2) Populasi dan sampel penelitian

3) Cara pengumpulan data

4) Alat pengumpulan data

5) Rencana analisis data

c. Hasil penelitian, terdiri dari:

1) Penyajian data

2) Uji statistik (apabila ada)

3) Analisis dan interpretasi hasil penelitian atau pembahasan hasil penelitian

d. Kesimpulan dan rekomendasi (saran) yang terdiri dari:

1) Kesimpulan hasil penelitian

2) Rekomendasi (saran-saran), biasanya terdiri dari:

a) Rekomendasi untuk peningkatan program

b) Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya

3. Bagian penutup, terdiri dari:

a. Daftar kepustakaan

b. Lampiran-lampiran, apabila ada

c. Indeks atau daftar istilah, apabila ada

Bagian pokok isi laporan seperti yang diuraikan di atas adalah yang umum dipakai untuk penulisan laporan penelitian biasa. Tetapi apabila hasil penelitian tersebut akan merupakan skripsi sarjana, tesis magister (pascasarjana), atau disertasi doktor biasanya menggunakan format sebagai berikut:

  1. Pendahuluan, terdiri dari:

a. Latar belakang

b. Perumusan masalah.

c. Tujuan penelitian.

d. Kegunaan (manfaat) penelitian.

  1. Tinjauan kepustakaan, yang biasanya terdiri dari:

a. Teori-teori yang berkaitan dengan penelitian tersebut.

b. Hasil-hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian tersebut.

  1. Kerangka konsepsual dan hipotesis :

a. Asumsi-asumsi kerangka konsepsual.

b. Kerangka konsep penelitian (biasanya dengan bagan atau ilustrasi).

c. Hipotesis-hipotesis.

d. Variasi-variasi penelitian dan definisi variabel-variabel tersebut.

  1. Bahan dan cara (metode penelitian).
  2. Hasil dan pembahasan penelitian.
  3. Kesimpulan dan rekomendasi.
  4. Daftar kepustakaan (referensi).
  5. Lampiran-lampiran.

Pendahuluan

Dalam pendahuluan ini diuraikan tentang latar belakang masaiah, yaitu beberapa hal yang berkaitan dengan objek yang diteliti serta situasi pada saatini. Kemudian dirumuskan masaiah yang menjadi pertanyaan penelitian, atau sesuatu perumusan masaiah yang periu dijawab dengan penelitian. Selanjutnya dirumuskan tujuan penelitian yang merupakan keluaran atau output yang dicapai dalam penelitian tersebut. Dari tujuan yang telah dirumuskan ini dapat diperkirakan manfaat atau gunanya penelitian tersebut bagi suatu program kesehatan dan bagi pengembangan ilmu kesehatan/ kedokteran.

Kerangka Konsepsual dan Hipotesis

Kerangka konsepsual merupakan visualisasi dari arah pemikiran penelitian yang akan dilakukan. Arah pemikiran ini sebenarnya meru­pakan hubungan antara variabel-variabel atau faktor-faktor yang diteliti. Untuk menggambarkan kerangka konsep ini diperlukan asumsi-asumsi atau teori-teori yang mendasari ide penelitian tersebut. Dari kerangka konsep ini terlihat variabel-variabel yang diteliti, dan selanjutnya batasan atau definisi dari tiap variabel tersebut.

Tinjauan Kepustakaan

Tinjauan kepustakaan adalah merupakan analisis teoretik tentang masalah yang diteliti, yang dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian yang telah ada dan atau hasil studi kepustakaan. Hal ini juga merupa­kan analisis masalah secara teoretis, yang didukung oleh berbagai teori dan hasil studi lain. Cara mengambil teori atau “statement” dari berba­gai sumber kepustakaan tersebut dapat dilakukan dengan mengambil intisarinya saja, atau dengan cara “mengutip” bagian tertentu untuk mempertegas atau memperkuat pendapat atau pandangan.

Bahan dan Cara (Metode Penelitian)

Bahan dan cara ini lebih tepat digunakan dalam penelitian di bidang eksakta. Sedangkan untuk penelitian di bidang sosial, ekonomi, dan budaya, sering menggunakan istilah “Objek dan Metode Penelitian”. Pada prinsipnya pada bagian ini diuraikan bahan atau materi yang digunakan dalam penelitian tersebut. Karena itu, pada-penelitian kesehatan masyarakat pada umumnya yang dimaksud dengan bahan penelitian ini adalah masyarakat sebagai objek penelitian. Sedangkan metode di sini menguraikan metode atau cara yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Dari Bagian penelitian sampai bahan dan cara peneiitian tersebut, di dalam skripsi, tesis, atau disertasi, sebenarnya sudah ada di dalam proposal penelitian.

Hasil dan Pembahasan

Hasil analisis data baik dengan analisis kualitatif maupun kuantitatif disajikan pada bagian ini. Penyajian hasil penelitian hendaknya secara terpadu, tidak dalam bentuk terpisah-pisah. Hasil penelitian yang biasanya berbentuk interpretasi data dibahas secara kritis dengan melihat kaitannya dengan hasil-hasil penelitian atau teori lain. Hal ini erat kaitannya dengan tinjauan kepustakaan sebagai dasar dalam membuat pembahasan.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan penelitian dibuat dalam dua bagian, yakni bagian umum dan bagian khusus. Kesimpulan khusus merupakan kristalisasi hasil interpretasi dalam analisis data, sedangkan kesimpulan umum merupakan ungkapan menyeluruh dari kesimpulan khusus, yang berfungsi sebagai informasi objektif dan pendapat yang teruji tentang masalah tersebut. Berdasarkan kesimpulan tersebut selanjutnya diru­muskan saran-saran operasional, konsep, maupun kebijaksanaan yang sejalan dengan kesimpulan atau hasil penelitian.

Leave a comment »

MERANCANG KUESIONER

A. PENDAHULUAN

Di dalam pengumpulan data dengan cara apa pun, selalu diperlukan suatu alat yang disebut “instrumen pengumpulan data”. Sudah barang tentu macam alat pengumpul data ini tergantung pada macam dan tujuan penelitian. Untuk penelitian ilmu-ilmu alam/ eksakta (natural sciences) sudah barang tentu diperlukan instrumen yang lain dengan penelitian ilmu-ilmu sosial (social sciences). Demikian juga alat-alat pengumpulan data untuk ilmu-ilmu sosial pun bermacam-macam sesuai dengan cara dan tujuan dari pengumpulan data tersebut.

Dalam bagian ini hanya akan dibahas tentang alat penpengumpulan data yang disebut “kuesioner”, yang biasanya dipakai di dalam wawancara (sebagai pedoman wawancara yang berstruktur) dan angket. Kuesioner di sini diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, di mana responden (dalam hal angket) dan interviewer (dalam hal wawancara) tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-tanda tertentu. Dengan demikian kuesioner sering juga disebut “daftar pertanyaan” (formulir).

Pentingnya kuesioner sebagai alat pengumpul data adalah untuk memperoleh suatu data yang sesuai dengan tujuan penelitian tersebut. Oleh karena itu, isi dari kuesioner adalah sesuai dengan hipotesis penelitian tersebut Kuesioner adalah bentuk penjabaran dari hipotesis.

Oleh karena itu suatu kuesioner harus mempunyai beberapa persyaratan, antara lain :

- Relevan dengan tujuan penelitian.

- Mudah ditanyakan.

- Mudah dijawab.

- Data yang diperoleh mudah diolah (diproses) dan sebagainya.

B. JENIS DAFTAR PERTANYAAN

Di dalam pengumpulan data sering digunakan 3 macam kuesioner/ formulir, yakni :

  1. Kuesioner (formulir) untuk keperluan administrasi. Di mana-mana formulir ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui saluran-saluran administrasi. Oleh karena itu jenis formulir ini lebih dikaitkan dengan keperluan-keperluan administrasi. Pengisian formulir ini sepenuhnya oleh pihak responden tetapi biasanya ada petunjuk pengisian.

Contoh: – Formulir masuk;

- Kaitu klinik, dan sebagainya.

  1. Kuesioner untuk observasi (from of observation). Agar observasi itu terarah dan dapat memperoleh data yang benar-benar diperlukan, maka sebaiknya di dalam melakukan observasi juga mempergunakan daftar pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu. Kuesioner ini mencakup hal-hal yang diselidiki/ diobservasi.
  2. Kuesioner untuk wawancara (from for quesioning).

Jenis kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui wawancara (interviu). Alat ini lebih digunakan untuk memperoleh Jawaban yang akurat dari responden. Wawancara.dapat dilakukan dengan :

- Personal interview (door to door).

- Telepon interview.

Jenis kuesioner inilah yang akan sedikit dibahas dalam bab ini.

C. PRINSIP DASAR PERANCANGAN KUESIONER

Sebelum kita mendesain suatu kuesioner lebih dahulu kita harus rnemperhitungkan kesulitan-kesulitan umum yang sering dijumpai di dalam interview, antara lain :

a. Responden sering tidak/ kurang mengerti maksud pertanyaan sehingga jawaban yang diberikan tidak ada hubungan dengan yang diajukan atau tidak memperoleh data yang relevan.

b. Responden mengerti pertanyaannya dan mungkin mempunyai informasinya. tetapi responden kurang tepat mengingatnya atau lupa.

Contohnya : “Apakah ada anggota keluarga di sini yang sakit pada tahun ini?” Untuk pertanyaan ini sudah barang tentu sulit mengingatnya. Maka pertanyaan ini perlu disederhanakan. Misal: “Selama 3 bulan terakhir ini siapa saja di dalam rumah ini yang sakit?”

c. Responden seringtidak bersediamenjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat bersifat pribadi, misal, tentang jumlah pendapatan/ gaji, jumlah perkawinan, dan sebagainnya.

d. Responden kadang-kadang mengerti pertanyaannya, tetapi ia tidak mampu memberikan jawabannya, atau menguraikan jawaban. Misalnya : “Apa maksud Ibu menjadi akseptor KB?”

e. Responden mengerti pertanyaannya dan tahu jawabannya, tetapi pertanyaannya kurang tepat diajukan pada responden. Misalnya, responden tidak/ belum mempunyai anak, ditanyakan di mana tempat melahirkan.

Oleh karena itu, dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan, hal-hal seperti tersebut perlu diperhitungkan. Untuk itu dalam mendesain suatu kuesioner, sebaiknya mengingat persyaratan sebagai berikut:

1. Pertanyaan hendaknya “jelas” maksudnya:

a. Menggunakan kata-kata yang tepat dan jelas artinya. Penggunaan kata atau istilah yang sulit atau ganjil akan memperoleh jawaban yang “bias”. Demikian juga penggunaan kata-kata ilmiah akan membingungkan responden.

b. Pertanyaan tidak terlalu luas atau indifinit. Pertanyaan yang sangat luas akan membingungkan responaen untuk menjawab. Misalnya; “Di manakah Ibu melahirkan?” Pertanyaan ini ja­wabannya sangat luas, sebab kemungkinan ibu tersebut sudah beberapa kali melahirkan dan tempatnya berbeda-beda pula. Maka sebaiknya dibatasi, misal. “Di mana Ibu melahirkan anak Ibu yang terakhir?”

c. Pertanyaan tidak terlalu panjang, atau menggabungkan bebera­pa pertanyaan. Misalnya: “Apakah Ibu sudah menjadi akseptor KB dan apa sebabnya?” Pertanyaan ini menghendaki 2 macam jawaban, sehingga menyulitkan responden. Maka sebaiknya dijadikan 2 pertanyaan.

d. Pertanyaan tidak boleh memimpin (leading), misalnya: “Ibu sudah mengikuti KB bukan?” Pertanyaan seperti ini sudah me­mimpin, seolah-olah si ibu tersebut sudah dipojokkan untuk menjawab “Sudah.” Sebaiknya ditanyakan, “Apakah Ibu sudah memakai cara-cara mencegah Kehamilan?”

e. Sebaiknya dihindari pertanyaan yang dobel negatif, misalnya : “Bukankah keluarga yang sudah 3 anaknya sebaiknya tidak menambah anak lagi?” Pertanyaan ini akan membingungkan si ibu tersebut dalam menjawabnya. Sebaiknya diubah, “Jumlah anak suatu keluarga itu sebaiknya cukup 3 orang saja. Bagaimana pendapat Ibu?”

2. Pertanyaan hendaknya membantu ingatan responden

Hal ini berarti bahwa pertanyaan sedapat mungkin harus memudahkan yang bersangkutan (responden) unruk mengingat kembali hal-ha1 yang akan diperlukan/ dijawab. Misalnya, akan menanyakan umur responden waktu melahirkan anak pertama kali. Sebelumnya perlu ditanyakan, tahun berapa yang bersangkutan (responden) itu lahir, tahun berapa ia melahirkan anaknya yang sulung, dan sebagainya.

3. Pertanyaan itu menjamin responden untuk dengan mudah mengutarakan jawabannya. Hal ini dimaksudkan pertanyaan itu harus menyediakan berbagai perkiraan jawaban yang sudah dirumuskan sehingga responden tidak disulitkan untuk memikir jawabanyang mungkin sukar dirumuskan.

Contoh : “Apa alasan Ibu mengikuti KB?”.

1. £ Penyakit

2. £ Ekonomi

3. £ Kesejahteraan ibu

4. £ Dipaksa suami

5. £ Lain-lain.

Jawaban ini harus dibacakan setelah responden mengalami kesulitan atau sulit untuk menjawab.

4. Pertanyaan hendaknya menghindari “bias”. Jawaban yang bias kadang-kadang terjadi karena responden tidak mau menjawab keadaan yang sebenarnya, dan memberikan jawaban yang lain. Jawaban-jawaban yang bias ini paling sering terjadi berhubung dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai umur, penghasilan, kebiasaan yang kurang baik, dan sebagainya. Untuk menguasai hal ini maka dalam menanyakan mengenai icome atau pun umur, sebaiknya tidak ditanyakan mengenai jumlah tepatnya, melainkan menanyakan dalam bentuk “range “.

Misalnya : “Berapa umur Ibu sekarang?”

1. £ 20 – 25 tahun

2. £ 25 – 30 tahun

3. £ 30 – 35 tahun

4. £ 35 – 40 tahun

dan sebagainya.

5. Pertanyaan hendaknya memotivasi responden untuk menjawab. Hal ini berarti akan memungkinkan responden untuk menjawab semua pertanyaan. Untuk itu maka diperlukan susunan pertanyaan atau kata-kata yang tepat. Usahakan agar pertanyaan-pertanyaan permulaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyenangkan responden. Pertanyaan yang berhubungan dengan income, ataupun pertanyaan yang memerlukan ingatan, sebaiknya diletakkan pada bagian akhir dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

6. Pertanyaan hendaknya dapat menyaring responden. Artinya, bila ada pertanyaan-pertanyaan yang khusus untuk si R, tertentu, harus didahului dengan pertanyaan-pertanyaan penyaring. Sebab apabila tidak, pertanyaan tersebut tidak akan terjawab oleh responden yang lain.

Misalnya : Akan menanyakan kontrasepsi apa yang dipakai oleh responden. Pertanyaan ini tidak atau sulit dijawab oleh responden yang belum mengikuti KB. Maka sebaiknya sebelum menanyakan pertanyaan ini ada pertanyaan penyaringanya, “Apa Ibu sudah mengikuti KB? ” Apa­bila “Ya. ” jawabannya, baru ditanyakan kontrasepsi mana yang dipakai. Tetapi bilajawaoannya “Tidak ” atau ” Belum.” ya tudak usah atau tidak perlu ditanya-kan lebih lanjut.

Contoh : Apakah Ibu sudah mengikuti Keluarga Berencana?”

01 £ Sudah

02 £ Belum (langsung pertanyaan No. 15)

10 Alat/kontrasepsi/ menggunakan apa ibu mengikuti KB.

01 £ Pil

02 £ Pijat

03 £ Jamu

dan sebagainya.

15 “Mengapa Ibu belum mengikuti KB?

01. £ Belum mempunyai anak

02. £ Baru mempunyai anak satu

03. £ Tidak setuju dengan KB.

Dan sebagainya.

7. Pertanyaan hendaknya sesederhana mungkin, sebab makin sederhana makin tegas sifatnya. Pertanyaan yang tidak tegas, misalnya: “Apakah Saudara setuju dengan dokter Puskesmas itu?”. Sikap setuju atau tidak setuju bukan ditujukan kepada orang, tetapi kepada perbuatannya, kebijaksanaannya, dan sebagainya.

D. UNSUR-UNSUR DALAM KUESIONER

Dalam penyusunan. sebuah kuesioner ada 4 aspek yang perlu diperhatikan, yaitu jenis,. bentuk, isi,- dan sequences (urutan-urutan) pertanyaan.

1. Jenis Pertanyaan

Yang perlu diperhatikan pada jenis pertanyaan ini ialah sifat data yang mana yang akan diperoleh. Berdasarkan ini, suatu daftar pertanyaan dapat menggali 3 hal, yaitu :

a. Pertanyaan mengenai fakta

Pertanyaan ini menghendaki jawaban fakta-fakta dari responden. Biasanya mengenai data-data demografi, misalnya pertanyaan tentang sex, income, pendidikan, agama, status perkawinan, jumlah anak, dan sebagainya.

b. Pertanyaan mengenai pendapat dan sikap

Kedua hal ini sulit untuk membedakannya. Sebab kadang-kadang sikap seseorang itu mencerminkan dari pendapatnya. Atau pendapat seseorang itu merupakan peryataan dari sikapnya. Oleh karena itu pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap dan pendapat adalah mengebali jawaban-jawaban mengenai perasaan, kepercayaan, konsepsi/ pendapat/ ide, dan sebagainya.

c. pertanyaan-pertanyaan informant

Pertanyaan-pertanyaan ini menghendaki jawaban-jawaban dari responden mengenai apa yang telah diketahui, apa yang telah didengar dan seberapa jauh apa yang diketahui serta dari mana mereka tahu, dan sebagainya.

2. Bentuk Pertanyaan

Pada prinsipnya ada 2 bentuk pertanyaan, yaitu “open ended question“dan “‘closed ended question” atau “structured“.

Pertanyaan Terbuka (Open Ended)

a. Free response question

Pertanyaan ini memberikan kebebasan kepada responden untuk menjawab. Pada umumnya jenis pertanyaan ini dipergunakan untuk memperoleh jawaban mengenai pendapat atau motif tertentu dari responden.

Contoh : Bagaimana pendapat Ibu mengenai alat-alat kontra-sepsi-IUD?” Dari pertanyaan ini responden diberi kebebasan untuk menjawab apa saja yang diketahuinya, apa yang dipikir tentang alat tersebut. Dengan demikian jawaban akan mempunyai banyak variasi sehingga menyulitkan tabulasi.

b. Directed response question

Seperti halnya dengan free response, jenis pertanyaan ini juga memberikan kebebasan menjawab bagi respondennya, tetapi sudah sedikit diarahkan. Apabila contoh tersebut di atas diubah menjadi penanyaan langsung, maka cukup memilih salah satu aspek dari penggunaan IUD tersebut. Misalnya: “Bagaimana perasaan Ibu selama menggunakan IUD ini?” Di sini pertanyaan sudah diarahkan kepada “perasaan” dari pemakaian IUD tersebut pada responden. Dapat juga ditanyakan aspek-aspek lainny, misalnya efektivitasnya terhadap pencegahan kehamilan, efek sampingnya, dan sebagainya.

Catalan : Bentuk pertanyaan terbuka ini meskipun sulit untuk ditabulasi, tetapi mempunyai keuntungan dapat menggali semua pendapat, keinginan. dan sebagainya dari responden, sehingga kualitas data yang diperoleh dapat terjamin.

Bentuk pertanyaan tertutup (Closed End zd)

Bentuk pertanyaan yang demikian mempunyai keuntungan mudah mengarahkan jawaban responden,. dan juga mudah diolah (ditabulasi). Tetapi kurang mencakup atau mencerminkan semua jawaban dari responden. Bentuk pertanyaan ini mempunyai beberapa variasi, antara lain:

a. Dichotomous choice

Dalam pertanyaan ini hanya disediakan 2 jawaban/ alternatif, dan responden hanya memilih satu diantaranya. Biasanya pertanyaan yang menyangkut pendapat, perasaan atau sikap responden.

Contoh : 1. Apakah Ibu pemah membicarakan masalah KB dengan teman-teman/ tetangga Ibu?”

1. £ Pernah

2. £ Tidak Pernah

2. “Apakah ibu mengetahui tentang Keluarga Berencana?”

1. £ Ya

2. £ Tidak

Keuntungan pertanyaan jenis ini ialah mudah mengolah/ tabulasinya. Disamping itu, menjawabnya pun tidak sulit karena hanya memilih satu diantara dua jawaban. Pertanyaan ini dapat digunakan, bila kita sudah yakin dan tahu benar kemungkinan jawaban-jawabannya dari pertanyaan yang akan diajukan.

b. Multiple Choice

Pertanyaan ini menyediakan beberapa jawaban/alternatif dan responden hanya memilih satu diantaranya yang sesuai dengan pendapatnya.

Contoh : Ada beberapa hal/alasan yang menyebabkan orang yang menggunakan cara-cara KB/ikut Keluarga Berencana “Menurut pendapat Ibu, alasan mana yang paling mendorong Ibu untuk melaksanakan Keluarga Berencana?”

1. £ Penyakit/Komplikasi waktu hamil/ melahirkan

2. £ Kesejahteraan keluarga

3. £ Jumlah anak

4. £ lain-lain (sebutkan) ………

c. Check List

Bentuk ini sebenarnya hanya modifikasi dari multiple choice. Bedanya, responden diberikan kebebasan untuk memilih jawaban sebanyak mungkin yang sesuai dengan apa yang dikatakan. Dilihat, dipunyai, atau pendapatnya.

Contoh : “Mengalah kehamilan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara apa saja yang sudah Ibu Ketahui?”

1. £ Pil

2. £ IUD

3. £ Condom

4. £ Injeksi

5. £ Pijat/ Urut

6. £ “Douche”

7. £ Sistem kalender/ pantang berkala

8. £ Senggama terputus

9. £ Vasektomi

10. £ Tubektomi

99. lain-lain (Sebutkan) ….

jawaban responden lebih dari satu, bahkan mungkin semua jawaban yang tersedia diketahui semua (di check). Agar diperhatikan di sini, bahwa dalam membacakan pertanyaan/ menanyakan jawaban (option) tersebut perlu di rotasi (digonti-ganti) untuk mengurangi bias.

d. Rangking Question

Seperti pada check list, tetapi jawaban responden diurutkan dari jawaban-jawaban yang terswedia sesuai dengan pendapat, pengetahuan atau perasaan responden, biasanya menyangkut gradasi dari pendapat, sikap dan sebagainya. Jadi responden diminta untuk mengurutkan jawaban-jawaban yang tersedia sesuai dengan pendapatnya.

Contoh : Menurut Ibu/ Bapak/ Saudara, kebutuhan apakah yang paling diutamakan?” (Sesuai dengan urutan kepentingannya.)

1. £ Pendidikan

2. £ Perumahan

3. £ Kesehatan

4. £ Pekerjaan

5. £ Hiburan/ rekreasi

6. £ lain-lain ( sebutkan ….. )

3. Isi Pertanyaan

Isi pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan tujuan dari penelitian serta tergantung pada dalam atau dangkalnya data yang digali. Banyaknya pertanyaan sangat relatif, tergantung dari luasnya penelitian tersebut. tetapi perlu diperhatikan pertanyaan yang terlalu banyak akan memakan waktu yang panjang dapat menimbulkan kebosanan dari responden. Apabila responden sudah bosan, maka jawaban-jawaban akan “bias”. Sebagai pegangan sementara, jumlah pertanyaan yang optimal adalah, apabila pertanyaan tersebut dinyatakan akan memakan waktu 15 sampai dengan 30 menit, dan paling panjang 45 menit. Apabila pertanyaan tersebut terlalu panjang sehingga memakan waktu lebih dari 45 menit. Sebaiknya interviwer datang dua kali untuk responden yang sama.

4. Urutan Pertanyaan

Model pertanyaan (questionaire) dapat dibentuk dari 4 bagian, yakni : introduksi, pertanyaan pemanasan, pertanyaan demografi dan pertanyaan pokok.

a. Introduksi (pengantar)

Sebelum pertanyaan dimulai biasanya dibuka dengan judul penelitian tersebut. sesudah itu diberi semacam kalimat pengantar, yang menjelaskan kepada responden tentang maksud atau tujuan dari penelitian tersebut juga tentang identitas responden.

Contoh :

Penelitian Tentang Jangkauan Pelayanan

Kesehatan di DKI Jakarta

gb22

Responden No. : ……………………………………..

Alamat : ……………………………………..

: ……………………………………..

Tanggal di isi : ……………………………………..

Dan sebagainya

b. Pertanyaan Pemanasan

Adlah pertanyaan mengenai latar belakang responden, misalnya di mana dilahirkan, dari mana asalnya sudah berapa lama tinggal di kota tersebut, dan sebagainya.

c. Pertanyaan demografi

Biasanya pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan status pendidikan, pekerjaan, latar belakang etnis, agama, seks dan sebagainya, diletakkan pada urutan kedua, sekaligus sebagai pertanyaan pemanasan. Tetapi ada juga yang terpisah.

d. Pertanyaan-pertanyaan pokok

Adalah merupakan jantungnya kuesioner. Sebab tujuan penelitian atau data-data yang akan diperoleh akan tercakup didalam pertanyaan-pertanyaan ini. Dari sini digali semua data yang diperlukan dalam penelitian tersebut.

Setelah pertanyaan pokok selesai, maka sebaiknya kuesioner ditutup dengan pertanyaan untuk membuktikan kebenaran jawaban-jawaban semelumnya.

Pre Coding

Hasil jawaban dari suatu kuesioner selanjutnya akan diproses (dioleh) baik melalui ”coding sheet” atau dimasukkan ke dalam kartu kode, maupun dengan alat0alat elektronik (Computer). Agar memudahkan dalam proses ini maka sebaiknya tiap jawaban/ alternatif dari tiap pertanyaan diberi kode-kode tertentu, misalnya dengan huruf a, b, c dan sebagainya, atau dengan angka 1, 2, 3, dan sebagainya. Proses semacam ini diberi nama prakoding (pre coding). Untuk menjawab atas alternatif “lain-lain” biasanya diberi kode 9, 09 atasu 99.

Contoh : ”Apabila Bapak/ Ibu sakit kemana biasanya berobat?”

01. £ Diobati sendiri

02. £ Ke Puskesmas

03. £ Ke dukun

04. £ Ke dokter praktek

05. £ Ke mantri (sebutkan……………. )

E. UJI KUESIONER SEBAGAI ALAT UKUR

Setelah kuesioner sebagai alat ukur atau alat pengumpul selesai disusun, belum berarti kuesioner tersebut dapat langsung digunakan untuk mengumpulkan data. Kuesioner dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian perlu uji validitas dan rehabilitas. Untuk itu maka kuesioner tersebut harus dilakukan uji coba “trial” di lapangan. Respon yang digunakan untuk uji coba sebaiknya yang memiliki ciri-ciri res­ponden dari tempat di mana penelitian tersebut harus dilaksanan.

Agar diperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal maka sebaiknya jumlah responden untuk uji coba paling sedikit 20 orang. Hasil-hasil uji coba ini kemudian digunakan untuk-mengetahui sejauh mana alat ukur (kuesioner) yang telah disusun tadi memiliki validitas” dan “reliabilitas”. Suatu alat ukur hams mem-punyarkriteria “validitas” dan reliabilitas”.

F. VALIDITAS

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Apabila seorang anak balita beratnya 20 kg, maka timbangan yang digunakan untuk menimbang anak tersebut juga menunjukkan berat 20 Kg, bukan 19,,5 kg atau 20,5 kg Hal ini berarti timbangan. tersebut valid. Demikian pula kuesioner sebagai alat ukur harus mengukur apa yang ingin diukur. Apabila suatu kuesioner untuk mengukur pengetahuan responden “‘imunisasi” maka akan menghasilkan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh responden yang diukur.

Untuk mengetahui apakah kuesioner yang kita susun tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan itu mempunyai korelasi yang bermakna (construct validity). Apabila kuesioner tersebut telah memiliki validitas konstruk, berarti semua item (pertanyaan) yang ada di dalam kuesioner itu mengukur konsep yang kita ukur. Misalnya kita akan mengukur pengetahuan imunisasi TT bagi ibu hamil, maka kita susun pertanyaan-pertanyaan begini:

1. Apakah ibu pemah mendengar imunisasi TT?

2. Bila pemah, untuk siapa imunisasi itu diberikan?

3. Apa guna (manfaat) imunisasi itu diberikan?

4. Berapa kali imunisasi tersebut harus diterima?

5. Penyakit apa yang dapat dicegah dengan imunisasi TT?

6. Di mana ibu dapat memperoleh imunisasi TT tersebut ?

7. dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diberikan kepada sekelompok responden sebagai sarana uji coba. Kemudian pertanyaan-pertanyaan (kuesioner) tersebut diberi skor atau nilai jawaban n masing sesuai dengan sistem penilaian yang telah ditetapkan, misalnya:

2 untuk jawaban yang paling benar.

1 untuk jawaban yang mendekati benar

0 untuk jawaban yang salah.

Sebagai gambaran, misalnya distribusi skor untuk masing-masing pertanyaan dari 10 responden, sebagai berikut :


Distribusi Skor Tiap-Tiap Pertanyaan

gb7

Selanjutnya kita menghitung korelasi antara skor masing-masing pertanyaan dengan skor total, sehingga ada 10 pertanyaan di dalam kuesioner kita. Dengan demikian maka akan ada 10 uji korelasi, yaitu pertanyaan nomor 1 dengan total, pertanyaan 2 dengan total, pertanya­an 3 dengan total, dan seterusnya.

Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi “product moment” yang rumusnya sebagai berikut:


gb31

Lebih lanjut perhitungan ini dapat dilihat pada contoh di bawah ini Di bawah ini hanya akan diberikan contoh korelasi antara pertanyaan nomor 1 dengan skor total.

Kolerasi Pertanyaan 1 Dengan Skor Total

Responden

X

Y

X2

Y2

XY

A

B

C

D

E

F

G

H

I

J

2

2

2

2

1

2

1

2

2

2

14

15

13

16

13

12

13

16

12

14

4

4

4

4

1

4

1

4

4

4

196

225

169

256

169

144

169

256

144

196

28

30

26

32

13

24

13

32

24

28

N = 10

18

138

36

1924

250

Keterangan :

X = Pertanyaan nomor 1

Y = Skor total

XY = Skor pertanyaan nomor 1 dikali skor total

Selanjutnya memasukan angka-angka tersebut ke dalam rumus di atas, sebagai berikut :

gb41

Setelah dihitung semua korelasi antara masing-masing pertanyaan skor total, misalnya diperoleh hasil sebagai berikut:

1 : = 0,190

2 : = 0,720

3 : = 0,640

4 : = 0,710

5 : = 0,550

6 : = 0,810

7 : = 0,690

8 : = 0,720

9 : = 0,660

10 : = 0,150

Untuk mengetahui apakah nilai korelasi tiap-tiap pertanyaan itu significant, maka perlu dilihat pada tabel nilai product moment, yang biasanya ada di dalam buku-buku statistik.

Untuk jumlah responden 10, berdasarkan tabel, taraf significancy yang diperlukan ialah 0,632. Oleh sebab itu, nilai korelasi dari perta­nyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut yang memenuhi taraf significancy (di atas 0,632) adalah pertaayaan: 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9. Sedangkan nomor 1, 5, dan 10 tidak bermakna. Selanjutnya untuk memperoleh alat ukur yang valid, maka pertanyaan nomor 1, 5, dan 10 tersebut hams diganti atau direvisi, atau di “drop” (dihilangkan).

G. RELIABILITAS

Reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama.

Apabila tinggi seorang anak diukur dengan sebuah meteran kayu, dan Pengukuran dilakukan berkali-kali dengan meteran yang sama, maka hasilnya (tinggi anak tersebut) akan tetap atau tidak berubah. Tetapi apabila meteran tersebut dibuat dari plastik misalnya maka hasilnya akan beruubah-ubah (tidak tetap). Hal ini akan tergantung bagaimana kita memegang meteran tersebut. Apabila cara mengukurnya (memegangnya) agak kendor. hasilnya akan lebih rendah. Tetap bila memegangnya dengan tarikan yang kuat. maka kemungkinan hasiinya akan lebih tinggi.

Oleh sebab itu meteran (alat ukur) yang dibuat dari kayu menghasilkan pengukuran yang lebih reliabel bila dibandingkan dengan meteran yang dibuat dari plastik. Dengan kata lain, meteran kayu hasilnya konsisten (ajeg), sedangkan meteran plastik hasil atau kurang konsisten.

Demikian juga kuesioner sebagai alat ukur untuk gejala-gejala sosial (non fisik) harus mempunyai reliabilitas yang tinggi. Untuk itu sebelum digunakan. untuk penelitian harus dites (diuji coba) sekurang-kurangnya dua kali. Uji coba tersebut kemudian diuji dengan tes menggunakan rumus korelasi product moment, seperti tersebut diatas. Perlu dicatat, bahwa perhitungan reliabilitas harus diiakukan hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki validitas. Dengan demikian harus menghitung validitas terlebih dahulu sebelum menghitung reliabilitas.

Cara perhitungan reliabilitas suatu alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik, yaitu :

  1. Teknik Tes-Tes Ulang

Dengan teknik ini kuesioner yang sama diteskan (diujikan) kepada sekelompok responden yang sama sebanyak dua kali. Sedang waktu antara tes yang pertama dengan yang kedua, sebaiknya 1 terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Sedang waktu antara 15-30 hari adalah cukup memenuhi persyaratan. Apabila selang waktu terlalu pendek, kemungkinan responden masih ingat pertanyaan-pertanyaan pada tes yang pertama. Sedangkan kalau selang waktu itu terlalu lama, kemungkinan pada responden sudah terjadi perubahan dalam variabel yang akan diukur.

Hasil pengukuran pertama dikorelasikan dengan hasil pengu­kuran (tes) yang kedua dengan menggunakan teknik korelasi product moment tersebut di atas. Sebagai gambaran dapat diikuti contoh berikut :

Pengukuran pertama

(Skor Total Tiap Responden)

14

15

13

16

13

12

13

16

12

14

14

Pengukuran kedua

(Skor Total Tiap Responden)

15

15

13

15

14

14

13

16

13

13

13

Hasil ini dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus se­perti tersebut di depan. Bila hasilnya (angka korelasinya) sama atau lebih dari angka kritis pada derajat kemaknaan: P 0,05 (lihat tabel), maka alat ukur atau kuesioner tersebut reliabel. Tetapi bila angka (hasil) yang diperoleh di bawah angka kritis, maka kuesioner terse­but tidak reliabel sebagai alat ukur.

  1. Teknik Belah Dua

Dengan menggunakan teknik ini berani alat pengukur (kuesio­ner) yang telah disusun dibelah atau dibagi menjadi dua. Oleh sebab itu, pertanyaan dalam kuesioner ini harus cukup banyak (memadai), sekitar 40-60 pertanyaan. Langkah-langkah yang diiakukan antara lain:

a. Mengajukan kuesioner tersebut kepada sejumlah responden, kemudian dihitung validitas masing-masing pertanyaannya. Pertanyaan-pertanyaan yang valid dihitung sedangkan yang tidak valid dibuang.

b. Membagi pertanyaan-pertanyaan yang valid tersebut menjadi dua kelompok secara acak (random). Separo masuk ke dalam belahan pertama, separonya lagi masuk ke dalam belahan kedua

c. Skor untuk masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan sehingga akan menghasilkan 2 kelompok skor total, yakni untuk belahan pertama dan belahan kedua.

d. Melakukan uji korelasi dengan rumus korelasi product moment tersebut, antara belahan pertama dengan belahan kedua.

e. Selanjutnya dengan daftar seperti uji korelasi sebelumnya dapat diketahui reliabilitas kuesioner tersebut.


  1. Teknik Paralel

Dengan menggunakan teknik ini kita membuat dua alat pengukur (kuesioner) untuk mengukur aspek yang sama. Kedua kuesioner tersebut diteskan (dicobakan) terhadap sekelompok responden yang sama. Kemudian masing-masing pertanyaan pada kedua kuesioner tersebut dicari (dihitung) validitasnya. Pertanyaan-pertanyaan dari kedua alat ukur (kuesioner) tersebut, yang tidak valid dibuang dan yang valid dihitung total skornya, lalu skor total dari masing-masing responden dari kedua kuesioner tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan teknik korelasi product moment seperti contoh-contoh tersebut di depan.

gb5

Leave a comment »

BEBERAPA PENGUMPULAN DATA (TEKNIK PENGAMATAN, WAWANCARA, DAN ANGKET)

A. Pengamatan (Observasi)

Pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan. Mula-mula rangsangan dari luar mengenai indera, dan terjadilah penginderaan, kemudian apabila rangsangan tersebut menarik perhatian akan dilanjutkan dengan adanya pengamatan.

Contoh: Sebuah mobil di depan kita akan menyebabkan pengin­deraan pada kita.

Apabila mobil itu menarik perhatian kita, maka akan terjadi proses pengamatan. Pada penginderaan tidak disertai keaktifan jiwa, sedangkan pada pengamatan disertai keaktifan jiwa.

Dalam penelitian, pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana, yang antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah dan afaktivitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Jadi didalam melakukan observasi bukan hanya “mengunjungi” . “melihat”, atau “menonton” saja, tetapi disertai keaktifan jiwa atau perhatian khusus dan melakukan pencatatan-pencatatan. Ahli lain mengatakan, bahwa observasi adalah studi yang disengaja dan sistematik tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psychis dengan jalan “mengamati dan “mencatat”.

1. Pengamatan dan Ingatan

Ingatan adalan kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan memproduksi kesan. Dalam pengumpulan data melalui pengamatan ini diperlukan ingatan yang cepat setia. teguk, dan luas. Ingatan yang cepat, artinya dalam waktu singkat dapat memahami sesuatu hal tanpa menjumpai kesukaran-kesukaran. Setia, artinya kesan-kesan yang telah diterimanya akan disimpan sebaik-baiknya, tak akan berubah. Teguh artinya dapat menyimpan kesan waktu lama. tak mudah lupa artinya dapat menyimpan kesan yang banyak.

Tetapi pada umumnya kita sulit untuk mempunyai sifat-sifat ingatan seperti tersebut di atas. Oleh sebab itu untuk mengatasi kelemahan ini dan untuk mengurangi timbulnya kesalahan-kesalahan observasi dapat dibantu dengan jalan :

a. Mengklasifikasikan gejala-gejala yang relevan.

b. Observasi diarahkan pada gejala-gejala yang relevan.

c. Menggunakan jumlah pengamatan yang lebih banyak.

d. Melakukan pencatatan dengan segera.

e. Didukung pula oleh alat-alat mekanik/elektronik seperti alat pemotretan, film. tape recorder, dan lain-lain.

Pertimbangan lain, diperlukannya alat-alat bantu ini mengingatkan bahwa di dalam penelitian ilmiah, baik yang ada di laborat maupun di lapangan, indera pengamatan yang paling penting adalah mata dan telinga. Alat-alat tersebut kemampuannya terbatas, berbeda-beda secara individual, dan tidak lepas dari kelemahan-kelemahan. Ditambah pula dengan kompleksnya fenomena sosial yang berdimensi majemuk, yang menyulitkan proses pengamatan. Hal ini semua apabila para pengamat tidak dibantu dengan alat-alat tersebut di atas akan memperbesar kesalahan yang akan dilakukan.

2. Sasaran Pengamatan

Apabila seorang peneliti terjun ke tengah-tengah masyarakat akan dijumpai banyak sekali kenyataan/gejala-gejala sosial yang dijadikan sasaran pengamatan. Tetapi tidak semua yang dilihat dan diamati itu dperlukan di dalam penelitian. Olen karena itu. sasaran pengamatan peneliti menghadapi kesukaran dalam menentukan apa yang harus diamati dan diperhatikan dengan seksama dan apa yang diabaikan.

pembatasan tentang sasaran pengamatan ini. sebaiknya dipertimbangkan terlebih dulu sebelum peneliti memulai mengadakan penga­matan. Untuk membantu pembatasan sarana pennelitian ini peneliti dapat mempelajari teori-teori ataupun pengetahuan-pengetahuan. Dari sini akan diperoleh gambaran mengenai kenyataan-kenyataan yang perlu diperhatikan dalam mempelajari masalah sosial tertentu. Misalnya, kita akan mengamati status sosial ekonomi seseorang, di samping kita dapat mengamati kekayaannya, kita juga dapat mengamati gejala-gejala lain yang menunjukkan tinggi/ rendahnya status sosial orang tersebut, yang semua ini dapat dipelajari di dalam leteratur atau pengalaman-pengalaman.

Di samping itu, untuk menentukan batas sasaran pengamatan diperlukan rangka penulisan yang merupakan teori atau konsep-konsep dan hipotesis, yang telah disusun di dalam suatu rancangan penelitian. Kemudian konsep atau pun hipotesis tersebut di jabarkan pada instrumen yang iebih konkret (misalnya formulir pengamatan).

3. Beberapa Jenis Pengamatan

a. Pengamatan Terlibat (Observasi Partisipatif)

Pada jenis pengamatan ini, pengamat (observer) benar-benar mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sasaran pengamatan (observee). Dengan kata lain, pengamat ikut aktif berpatisipasi pada aktivitas dalam kontak sosial yang tengah diselidiki. Jenis teknik ini biasanya digunakan di dalam penelitian yang brersifat eksploratif, yang mula-mula dipakai dalam penelitian di bidang antropologi. Tetapi akhirnya diterapkan pula terhadap kesatuan-kesatuan sosial lainnya.

Yang perlu diperhatikan di dalam observasi partisipasi ini adalah jangan sampai inereka (observee) tahu bahwa pengamat yang berada di tengah-tengah mereka sedang memperhatikan gerak-gerik mereka. Oleh karena itu, pada pencatatan-pencatatan yang dibuat oleh pengamat jangan sampai terlihat oleh sasaran pengamatan. Apabila observee tahu bahwa mereka sedang diperhatikan (diamati), maka akan terjadi kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:

1) Tingkah laku mereka akan dibuat-buat.

2) Kepercayaan mereka terhadap pengamat akan hilang, yang akhirnya menutup diri dan selalu berprasangka.

3) Dapat mengganggu situasi dan relasi pribadi.

4) Akibat dari ini semua akan diperoleh data yang bias.

Agar observasi partisipasif ini berhasil, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Dirumuskan gejala apa yang harus diobservasi.

2) Diperhatikan cara pencatatan yang baik. sehingga tidak mmenimbulkan kecurigaan.

3) Memelihara hubungan baik dengan observee.

4) Mengetahui batas intensitas partisipasi.

5) Menjaga agar situasi dan iklim psikologis tetap wajar.

6) Sebaiknya pendekatan pengamatan dilakukan melalui tokoh-tokoh masyarakat setempat (key person).

Dalam hal intensitasnya partisipasi dapal digolongkan menjadi 2, yaitu: a) Panisipasi partiil (sebagian), yang hanya mengambil bagian pada kegiatan-kegiatan tertentu saja, di mana tingkahlaku-tingkahlaku yang akan diamati timbul. b) Partisipasi penuh, dengan ikut serta pada semua kegiatan sosial yang ada.

Sudah barang tentu, kedua jenis partisipasi ini dalam rangka pengamatan pengumpulan data mempunyai kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan.

b. Pengamatan Sistematis

Ciri utama jenis pengamatan ini adalah mempunyai kerangka struktur yang jelas. di mana di dalamnya berisikan fakror yang diperlukan dan sudah dikelompokkan ke dalam kategori-kategori. Dengan demikian maka materi observasi mempunyai skope yang lebih sempit dan terbatas, sehingga pengamatan lebih terarah. Pada umumnya isi sistematika ini didahului suatu observasi pendahuluan, yakni observasi partisipasif guna mencari penemuan dan perumusan yang akan dijadikan sasaran observasi.

Apabila dalam suatu observasi tidak diadakan sistematika secara kategoris atau tidak mempunyai kerangka struktur, maka pengamatan ini digolongkan dalam observasi non-sistematis. Hal ini yang perlu diperhatikan oleh pengamat dalam pengamatan yang berstruktur ini adalah agar bermacam-macam peralatan yang dipergunakan untuk mengadakan pencatatan jangan sampai mengganggu hubungan antara pengamat itu sendiri dengan observee (yang diamati).

c. Observasi Eksperimental

Dalam Observasi ini observee dicoba atau dimasukkan ke dalam suatu kondisi atau situasi tertentu. Kondisi dan situasi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga yang akan dicari/diamati akan timbul. Pengamatan dilakukan dengan amat teliti, karena pada umumnya gejala-gejala sosial itu sulit untuk ditimbulkan lagi meskipun dalam situasi dan kondisi yang sama.

Dalam jenis observasi ini semua kondisi dan faktor-faktornya dapat diatur dan dikendalikan, maka observasi eksperimental ini juga disebut Pengamatan terkendali. Keuntungan dari pengamatan terkendali ni antara lain: orang tidak perlu menunggu terlalu lama timbulnya suatu gejala atau tingkah laku yang diperlukan. Sebab gejala/tingkah laku yang sulit timbul dalam keadaan normal, dengan stimulus/kondisi yang sengaja diciptakan itu, gejala-gejala tersebut dapat muncul. Misalnya frustasi, ketekunan, agresi, reaksi, dan sebagainya.

Namun demikian pengamatan jenis ini mempunyai kelemahan karena hasilnya sering ”bias”. Hal ini disebabkan karena orang-orang yang menjadi sasaran pengamacan seolah-olah dipaksa meninggalkan lingkungan mereka yang asli, dan memasuki suatu tempat atau ruangan yang asing bagi mereka. sehingga apa yang dilakukan mereka di tempat/situasi yang asing ini berbeda dengan tingkah laku mereka di tempat asal mereka. Jadi kemungkinan tingkahlaku mereka selama di dalam percobaan dibuat-buat.

Sedikit untuk mengurangi kelemahan ini kadang-kadang digunakan “one way screen“, yaitu suatu alat yang memungkin pengamat melihat segala sesuatu yang terjadi atau yang diperbbuat oleh observee di belakang layar, sedangkan orang yang diamati tidak melihat pengamat (observer). Hal ini akan lebih menjamin observee dapat berbuat bebas dan wajar.

Sering juga observasi eksperimental ini disebut observasiterkontrol, karena dengan sengaja proses/gejala-gejalanya diusahakan agar dapat dikendalikan dan dikontrol, Pengamatan semacam ini banyak dilakukan dalam laboratorium ilmiah, klinik khusus, ruang-ruang penelitian dan sebagainya yang mengadakan penyelidikan terhadap gejala kealaman dan fenomena sosial yang sederhana (tidak kompleks).

Tetapi pada kenyataan gejala sosial itu sangat kompleks dimana suatu gejala sosial itu berada di tengah matrix sosial yang luas dan rill yang kondisi dan situasinya sulit untuk dikontrol. Maka timbullah obserfasi tidak terkontrol, karena kondisi dan situasinya tidak dikendalikan oleh pengamat untuk kemudian dilakukan pengontrolan. Untuk mempelajari fenomena sosial ini digunakanlah teknik observasi partisipatif seperti telah diuraikan di depan.

4. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Pengamatan

Kelebihan :

a. Merupakan cara pengumpulan data yang murah, mudah dan langsung guna mengadakan penelitian terhadap macam-macam gejala.

b. Tidak mengganggu, sekurang-kurangnya tidak terlalu mengganggu pada sasaran pengamatan (observee).

c. Banyak gejala-gejala psychis yang penting tidak atau sukar diperoleh denga teknik angket ataupun interview, tetapi dengan metode ini mudah diperoleh.

d. Dikemungkinan mengadakan pencatatan secara serempak kepada sasaran pengamatan yang lebih banyak.

Kekurangan :

a. Banyak peristiwa peikhis tertentu yang tidak dapat diamati, misalnya harapan, keinginan, dan masalah-masalah yang sifatnya sangat pribad, dan lain-lain.

b. Sering memerlukan waktu yang lama. sehingga membosankan, karena tingkah-laku/gejala yang dikehendaki tidak muncul-muncul.

c. Apabila sasaran pengamatan mengetahui bahwa mereka sedang diamati, mereka akan dengan sengaja menimbulkan kesan-kesan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Jadi sifatnya dibuat-buat.

d. Sering subjektifitas dari observer tidak dapat dihindari.

Beberapa Alat Observasi:

Seperti telah disinggung di depan bahwa pelaksanaan observasi agar dengan cermat memperoleh data, diperlukan beberapa alat bantu. Alat-alat tersebut antara lain :

a. Check List

Adalah suatu daftar pengecek, berisi nama subjek dan beberapa gejala/identitas lainnya dari sasaran pengamatan. Pengamat tinggal memberikan tanda check (x) pada daftar tersebut yang menunjukkan adanya gejala/ciri dari sasaran pengamatan. Check list ini dapat bersifat individual dan juga dapat bersifat kelompok. Kelemahan check list ini adalah hanya dapat menyajikan data yang kasar saja hanya mencatat ada atau tidaknya suatu gejala.

Concon check list dapat disimak sebagaimana gambar yang di halaman 100 atas.

Cheek List Kelompok

gb1

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-no-proof:yes;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:48.2pt; mso-footer-margin:36.85pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:178590938; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1261735070 494691756 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:269436505; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:821183502 -175576358 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:0; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:84.75pt; mso-level-number-position:left; margin-left:84.75pt; text-indent:-48.75pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @list l2 {mso-list-id:331488458; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-578885560 -832901490 744774236 -1052754038 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:99.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:99.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:552539625; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-754655752 1464483528 1515355056 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4 {mso-list-id:733241391; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1814844122 2091667348 -452398698 556986832 -785873424 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 {mso-level-text:”%3\)”; mso-level-tab-stop:66.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:66.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l4:level4 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%4\)”; mso-level-tab-stop:84.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:84.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l5 {mso-list-id:851725426; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:306600700 67698703 -867809958 494691756 67698689 -175576358 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l5:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level2 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l5:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} @list l5:level5 {mso-level-start-at:0; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:210.75pt; mso-level-number-position:left; margin-left:210.75pt; text-indent:-48.75pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @list l6 {mso-list-id:1107504350; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1501650008 67698709 67698703 1819695624 67698703 -361970954 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l6:level2 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l6:level3 {mso-level-tab-stop:101.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:101.25pt; text-indent:-20.25pt;} @list l6:level4 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l6:level5 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l7 {mso-list-id:1356661325; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-332126406 494691756 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l8 {mso-list-id:1556820668; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-110874220 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l8:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l9 {mso-list-id:1573002382; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:38568546 1464483528 2091667348 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l9:level2 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l10 {mso-list-id:1917401215; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1012424434 494691756 -123595278 494691756 -994394066 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l10:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l10:level2 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l10:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l10:level4 {mso-level-text:”%4\)”; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

  • Kelemahan ceck list ini adalah hanya dapat menyajikan data kasar, sebab hanya mencatat ada atau tidaknya suatu gejala.

a. Skala Penilaian (Rating Scale)

Skala ini berupa daftar yang berisikan ciri-ciri tingkah laku, yang dicatat secara bertingkat. Rating scale ini dapat merupakan satu alat pengumpulan data untuk menerangkan, menggolongkan, dan menilai seseorang atau suatu gejala. Skala penilaian ini dapat berbentuk berbagai macam, antara lain :

1) Bentuk kuantitas yang menggunakan score atau rangking.

Contoh: Penilaian terhadap gejala tertentu sebagai berikut:

Gejala

Skor

1 2 3 4 5

Kerja sama

Kerajinan

Partisipasi

Ketekunan

dsb

X

X

X

X

Pengamat tinggal memberikan score ari gejala yang diamati dengan sendirinya menurut “Judment” pengamat itu sendiri.

2) Rating scale dalam bentuk diskripsi

Contoh : Kerja sama

————–– Dapat/ mau bekerja sama dengan orang lain.

————–– Kadang-kadang mau bekerja sama, tetapi tidak efektif.

————–– Mau bekerja sama, tetapi dengan orang-orang tertentu saja.

————— Bekerja sama secara baik dengan orang lain.

————— Bekerja sama baik sekali dengan setiap orang.

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; mso-no-proof:yes;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Pengamat memberikan tanda check di muka pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun.

3) Rating scale dalam bentuk grafis

Bekerja sendiri (independentcy)

( )

( )

( V )

( )

( )

Selalu mem-butuhkan petunjuk

Biasanya memerlukan petujuk

Dalam hal-hal tertentu membutuh-kan petun-juk

Sewaktu-waktu me-merlukan pengawas-an

Bekerja bail bila dibiarkan sendiri

Pengamat memberikan tanda check (v) pada skala gejala yang telah tersusun. Kelemahan dari skala penilaian ini antara lain : sangat subjektif dan sangat kaku (rigid), sehingga kurang memberikan kesempatan luas kepada observer.

b. Daftar Riwayat Kelakuan (Anecdotal Record)

Adalah catatan-catatan mengenai tingkah laku seseorang (observee) yang luar biasa sifatnya atau yang khas. Catatan semacam ini kecuali dibuat oleh pengamat, sering pula dibuat oleh guru pemimpin organisasi, pendeta, direktur perusahaan dan sebagainya. Pada prinsipnya anecdotal record ini harus dibuat secepat mungkin di kala penstiwa itu terjadi atau sesudah terjadi. dengan catatan ucapan atau tingkah laku tertentu dari anggora suatu masyarakat.

c. Alat-alat Mekanik (Electronics)

Alat-alat ini antara lain: alat perekam, alat fotografis. Film, tape recorder, kamera televisi, dan sebagainya. Alat-alat tersebut setiap saat dapat diputar kembali untuk memungkinkan mengadakan analisis secara teliti.

A. WAWANCARA (INTERVIEW)

Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan utuk mengumpulkan data, di mana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face) Jadi data tersebut diperoleh langsung dari responden melalui pertemuan atau percakapan. Wawancara sebagai pembantu utama dari metode observasi. Gejala-gejala sosial yang tidak dapat terlihat atau diperoleh melalui observasi dapat digali dari wawancara.

Wawancara bukanlah sekadar angka lisan saja, sebab wawancara peneliti akan dapat:

1. Memperoleh kesan langsung dari responden.

2. Menilai kebenaran yang dikatakan oleh responden.

3. Membaca air muka (mimik) dari responden.

4. Memberikan penjelasan bila pertanyaan tidak dimengerti responden

5. Memancing jawaban bila jawaban macet.

Dalam pelaksanaan penelitian. wawancara kadang-kadang bukan merupakan hal yang terpisah khusus, melainkan merupakan pelengkap atau Suplemen bagi metode-metode yang lain. Diharapkan dengan wawancara ini diperoleh, suatu yang lebih valid.

Di dalam wawancara hendaknya antara pewawancara (interviewer) dengan sasaran (interviewee) :

1. Saling melihat, saling mendengar dan saling mengerti.

2. Terjadi percakapan biasa, tidak terlalu kaku (formal)

3. Mengadakan persetujuan/ perencanaan pertemuan denga tujuan tertentu.

4. Menyadari ada banyak kepentingan yang berbeda antara pencari informasi dan pemberi informasi.

Beberapa jenis wawancara :

Selain wawancara penelitian yang dipergunakan untuk mengumpulkan atau melengkapi data penelitian. ada wawancara jenis lain, yaitu wawancara diagnostik dan wawancara pengobatan yang masing-masing tujuannya adalah untuk menemukan jenis gangguan/ penyakit dan tujuan pengobatan/ penyembuhan bagi seorang pasien/Client. Di samping.itu ada wawancara jenis lain, yakni :

  1. Wawancara Tidak Terpimpin (Non Directive or Unguided Interview)

Sebenarnya semua wawancara itu terpimpin, yakni dipimpin oleh keinginan untuk mengumpulkan informasi atau data, tetapi wawancara tidak terpimpin di sini diartikan tidak ada pokok persoalan yang menjadi fokus dalam wawancara tersebut. Sehingga dalam wawancara ini pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan ini tidak sistematis, melompat-lompat dari satu peristiwa/topik ke perisriwa/topik yang lain tanpa berkaitan. Oleh karena itu wawancara ini tidak mempergunakan pedoman yang tegas. Maka tidak jarang wawancara ini dapat menjurus ke arah “free talk” yang sulit disebut wawancara lagi, karena situasinya tidak dapat dikuasai atau dibimbing lagi oleh interviewer.

interviu ini hanaya cocok sebagai suatu teknik pengumpulan data guna memperoleh data-data khusus yang mendalam, yang tidak dapat diperoleh dengan wawancara terpimpin.

Dengan sendirinya wawancara tak terpimpin ini banyak kelemahan antara lain :

a. kurang efisien;

b. tidak ada pengecekan secara sistematis. sehingga realibilitasnya kurang;

c. memboroskan tenaga, pikiran, biaya. dan waktu. Dsb

d. sulit untuk diolah/ dianalisis.

  1. Wawancara Terpimpin (Structured or Interview)

Interview jenis ini dilakukan berdasarkan pedoman-pedoman berupa kuesioner yang telah disiapkan masak-masak sebelumnya. Sehingga interview tinggal membacakan pertanyaan-pertanya kepada interviewee. Pertanyaan-pertanyaan di dalam pedoman (kuesioner) tersebut disusun sedemikian rupa sehingga mencakup variabel-variabel yang berkaitan dengan hipotesisnya. Uraian lebih lanjut dari hal ini akan akan dibicarakan di dalam Prinsip-prinsip Penyusunan Kuesioner.

Keuntungan dari wawancara terpimpin ini antara lain :

a. Pengumpulan data dan pengolahannya dapat berjalan dengan cermat/teliti.

b. Hasilnya dapat disajikan secara kualitatif maupun kuantitatif.

c. Interviewer dapat dilakukan oleh beberapa orang, karena adanya pertanyaan-pertanyaan yang uniform.

Sedangkan kelemahan wawancara jenis ini antara lain :

Pelaksanaan wawancara kaku (rigid), interview selalu dibayangi pertanyaan-pertanyaan yang sudah tersusun. Di samping interviewer menjadi terlalu formal, sehingga hubungannya dengan responden kurang fleksibel.

  1. Wawancara Bebas Terpimpin

Wawancara jenis ini merupakan kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan wawancara terpimpin. Meskipun terdapat unsur kebebasan, tetapi ada pengaruh pembicaraan secara tegas dan mengarah. jadi wawancara jenis ini mempunyai ciri fleksibilitas (keluwesan) dan arah yang jelas. Oleh karena itu sering dipergunakan untuk menggali gejala-gejala kehidupan psychis antropalogis, misalnya latar belakang suatu keyakinan, motivasi dari suatu perbuatan, harapan-harapan. dan unsur-unsur terpendam lainnya yang bersifat sangat pribadi.

Unsur keluwesan tersebut sebenarnya tergantung pada keteerampilan dari pewawancara dalam memanipulasikan pada saat-saat psychologis yang tepat. Misalnya, kita akan mengadakan penelitian tentang seorang pemimpin yang otoriter, maka konsep otoriter itu kita jabarkan ke dalam variabel-variabel yang dapat diobservasi. Dari analisis tersebut disusun ke dalam pokok-pokok hal (pedoman interviu) yang sifatnya masih mentah. Artinya, interviewer diberi kebebasan untuk memasak sendiri pertanyaan tersebut sehingga memperoleh jawaban-jawaban yang diharapkan. Jadi dengan hanya berpedoman dengan pola ini pewawancara melakukan wawancara dalam suasana atau dengan cara yang sesantai mungkin, interviewee secara bebas dapat memberikan informasi selengkap mungkin.

Maka dengan jalan penggalian dan pancingan-pancingan pewawancara, akan diperoleh data yang lebih luas tentang latar be­lakang, motivasi-motivasi, afeksi-afeksi, dan sebagainya yang menjadi landasan bagi sikap pemimpin yang otoriter tersebut.

  1. FreeTalk dan Diskusi

Apabila di dalam suatu wawancara terjadi suatu hubungan yang sangat terbuka antara interviewer dan interviewee, maka di sini sebenarnya kedua belah pihak masing-masing menduduki dwifungsi, yakni masing-masing sebagai ”information hanter” dan “information supplier: dan dalam keadaan demikian ini kedua belah pihak dengan hati terbuka bertukar pikiran dan perasaan dan sesubjek mungkin mereka saling meberikan keterangan-keterangan. Maka dalam situasi demikian ini berlangsunglah suatu “free talk” atau berbicara bebas. Disini interviwer sebenarnya bukan hanya bertindak sebagai pencari data, tetapi juga sebagai sugester, motivator, dan edukator sekaligus.

Oleh karena itu. metode omong-omong bebas ini sering dipakai di dalam suatu “action research “. Dalam penelitian semacam ini fungsi peneliti bukan saja sebagai pencari data tetapi juga sebagai partisipan yang aktif dalam proses situasi sosial atau kelompok sosial yang tengah diteliti. Free talk ini sering juga dipakai dalam interaksi klinis antar seorang dokter dengan pasiennya untuk maksud-maksud diagnotis dan terapeutis guna mempercepat kesembuhan pasien.

Kebaikan dari metode omong-omong bebas ini adalah bahwa dengan adanya partisipasi aktif dari peneliti pada anggota masyarakat maka pihak informan akan merasa terangsang dan merasa mendapatkan manfaat dalam memberikan infomiasi-informasi yang benar kepada peneliti. Kelemahan metode ini adalah kurang relevan untuk penelitian dalam rangka menguji hipotesis.

Di samping jenis-jenis wawancara tersebut di atas, ada wawancara jenis lain yang dibedakan berdasarkan banyaknya Interviewee yakni wawancara prihadi dan wawancara kelompok. Dalam wawancara pribadi, interviewer menghadapi dua atau lebih interviewee. Dalam wawancara ini para anggota kelompok dapat saling menambah dan mengurangi informasi dan dapat saling mengontrol terhadapj jawaban rekannya.

  1. Teknik Wawancara

Berhasil atau tidaknya wawancara pada garis besarnya tergantung pada 3 hal, yaitu hubungan baik antara interviewer dengan interviewee, keterampilan sosial interviewer, serta pedoman dan cara pencatatan.

a. Hubungan baik antara pewawancara dengan sasaran (interviwee)

Dalam suaru wawancara interviewee akan memberikan informasi-informasi atau nenjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik atau benar apabila tercipta suasana yang bebas dan tidak kaku. Suasana seperti ini akan dapat rerbentuk apabila ada hubungan yang baik, saling percaya mempercayai antara pewawancara dengan yang diwawancarai. Suasana semacam ini disebut “rapport’. Jadi tugas pertama dari pewawancara adalah menciptakan “rapport” ini. Untuk menciptakan keadaan semacam ini dapat dicapai dengan :

1) Lebih dahulu mengadakan pembicaraan pendahuluan atau “warming uP” untuk perkenalan dan sekaligus untuk menjelaskan tujuan wawancara.

2) Menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti. Apabila mungkin gunakan bahasa sehari-hari dari responden, atau mungkin bahasa daerah.

3) Masalah dengan permasalahan yang sesuai dengan minat atau keahlian responden, sehingga mereka tertarik lebih dahulu.

4) Menciptakan suasana yang bebas dan santai, sehingga responden tak merasa tertekan/ terpaksa.

5) Hindarkan kesan-kesan yang terburu-buru, tidak sabar, dan sikap yang kurang menghargai (sinis).

6) Memberikan sugesti kepada interviewee bahwa keterangan atau jawaban mereka sangai berharga, tetapi dijaga pula jangan sampai mereka “over acting“.

7) Probing” (menstimulasi percakapan). Apabila jawaban itu masih kurang lengkap, atau mungkin macet (tidak memperoleh jawaban dari interviewee, rangsaaglah sehingga jawaban muncul). Hal semacam ini disebut “probing“. Probing Juga diperlukan untuk mengarahkan atau menyaring jawaban-jawaban yang relevan.

8) Hendaknya bersikap hati-hati.jangan sampai menyentuh titik-titik kritis (critical points) dari interviewee, misainya hal-hal yang sangat sensitif dan rahasia.

9) Harus memegang teguh “kode etikInterviewer yang antara lain tidak membicarakan dengan pihak siapa pun tentang rahasia dan interviewee.

b. Keterampilan Sosial Interviewer

Seorang pewawancara di samping mempunyai tugas untuk menciptakan “raport” dengan responden, ia juga harus mempunyai penampilan diri yang baik. Dengan kata lain, ia harus mempunyai keterampilan sosial. Keterampilan sosial tersebut antara lain meliputi :

1) Bersikap ramah, sopan, dan berpakaian rapi.

2) Menggunakan bahasa yang sopan, ringkas, dan mudah di ditangkap

3) Bersikap luwes, supel, dan bijaksana.

4) Menggunakan lagu dan nada suara yang menarik, tidak terlalu keras, tetapi jangan terlalu lembut.

5) Bersikap responsif, pada saat-saat tertentu dapat ikut merasakan sesuatu yang terjadi pada diri interviewee, Misalnya, bila interviewee sedang menceritakan penderitaan atau kegembiraannya interviewer dapat ikut menghayati.

6) Memberikan sugesti yang halus, tetapi tidak sampai mempengaruhi jawaban responden.

7) Menunjukkan sikap keterbukaan dan setia, sukarela, tidak menunjukkan sikap tertutup dan terpaksa.

8) Apabila interviewer menggunakan alat-alat pencatat (kuesioner misalnya), gunakanlah secara informal. Bila mungkin tidak sampai terlihat oleh interviewee.

9) Waktu bicara tataplah wajah interviewee, demikian pula waktu mendengarkan jawaban-jawaban dari mereka.

10) Waktu wawancara, lebih baik menyebut nama responden (interviewee) daripada hanya dengan sebutan bapak, ibu, anda, atau saudara. Misalnya : “Berapa anak Pak Kijo” (lebih baik, daripada” Berapa anak bapak?“)

c. Pedoman dan Cara Pencatatan Wawancara

Untuk pedoman pencatatan suatu wawancara akan dibahas tersendiri di dalam “Prinsip-Prinsip Penyusunan Kuesioner”. Di sini hanya akan dibahas tentang cara melakukan pencatatan data wawancara. Secara garis besarnya pencatatan data wawancara dapat dilakukan de­angan 5 cara, yaitu pencatatan langsung, pencatatan ingatan, pencatatan dengan alat recording, pencatatan dengan field ratting, dan pencatatan dengan field coding.

1) Pencatatan Langsung

Maksudnya pewawancara dengan langsung mencatat jawaban-jawaban dari interviewee, sehingga alat-alat dan pedoman penelitian erviewer harus selalu siap di tangan. Memang hal ini ada keuntungannya, bahwa interviewer belum lupa tentang jawaban-jawaban atau data yang diperoleh. Tetapi kerugiannya, hubungan antara pewawancara dengan responden menjadi kaku dan tidak bebas/sehingga rapport dapat terganggu.

2) Pencatatan dari Ingatan

Dalam jenis pencatatan ini, pencatatan dilakukan setelah wawancara selesai seluruhnya. Jadi dalam wawancara ini tidak memegang apa-apa, sehingga hubungan antara kedua belah pihak tidak terganggu, dan rapport mudah tercipta. Tetapi cara ini mempunyai beberapa kelelahan, antara lain :

a) Banyak data/jawaban yang hilang karena terlupakan.

b) Bnyak data yang terdesak oleh keterangan-keterangan lain yang oleh informan diceritakan secara menonjol dan dramatis.

c) Data yang dicatat dari ingatan, terutama dalam waktu yang agak lama akan mengandung banyak kesalahan.

d) Sering juga data yang dicatat dari ingatan kehilangan sarinya.

Beberapa ahii mencatat bahwa rata-rata 25% dari data yang dari ingatan mengandung kesalahan (sosiolog Payne). Penelitian (Symonas dan Dietrich) memperhitungkan bahwa rata-rata hanya 39% cari data wawancara yang dapat dicatat dengan ingatan, kalau dilakukan segera pada hari wawancara itu juga. Tetapi bila dilakukan 2 hari sesudahnya hanya 30%, dan hanya 23% bila pencatatan dilakukan seminggu sesudah wawancara.

3) Pencatatan dengan Alat Recording

Pencatan dengan alat recording ini sangat memudahkan pewawancara, karena dapat mencatat jawaban secara tepat dan detail. pada saat ini banyak alat-alat elektronik semacam ini yang berukuran mini yang mudah di bawa ke mana-mana dan tanpa memerlukan persiapan yang berarti serta tidak rerlalu mencolok.

Tetapi kelemahan pencatatan dengan alat ini ialah, memerlukan kerja dua kali. Sebab interviewer harus menyalin atau menulis dari alat recording tersebut. Di samping itu pencatatan semacam ini sangat mahal harganya.

4) Pencatatan dengan Field Rating (dengan Angka)

Sebelum mengadakan pencatatan dengan sendirinya interviewer mempersiapkan lebih dulu formulir isian atau kuesioner mengenai data yang akan dikumpulkan, dan sekaligus memperhitungkan jawaban yang digolongkan ke dalam beberapa kategori. Tiap-tiap kategori diberi nilai atau “kata nilai”. Misalnya kita ingin mengukur tanggapan dan penilaian terhadap Program Keluarga Berencana, maka jawaban yang kita sediakan:

a) Sangat setuju sekali atau dengan angka 5

b) Sangat setuju. dengan angka 4

c) Setuju, dengan angka 3

d) Tidak setuju, denan angka 2

e) Sangat tidak setuju, dengan angka 1

f) Tak ada tanggapan, dengan angka 0

5) Pencatatan Data Wawancara dengart Kode (Field Coding)

Seoerri pada field ranting, jawaban responden tidak dinilai dengan angka “kata angka”. melainkan hanya dengan tanda atau kode saja. Biasanya kode tersebur berupa huruf atau tanda-tanda lain yang mengkiaskan jawaban-jawabannya. Misalnya degan huruf A, B, C, D dan sebagainya. Atau dengan tanda positif )+) atau tanda negatif ( – ) untuk jawaban “ya” atau “tidak”.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Wawancara

Kelebihannya :

1. Metode ini tidak akan menemui kesulitan meskipun respondennya buta huruf sekalipun, atau pada lapisan masyarakat yang mana pun, karena alat utamanya adalah bahasa verbal. Dengan pengertian, bahwa interviewer harus dapat menyesuaikan bahasa dan cara de­ngan latar belakang responden.

2. Karena keluwesan dan fleksibilitasnya ini, maka metode wawancara dapat dipakai sebagai verifikasi data terhadap data yang diperoleh dengan cara observasi ataupun angket.

3. Kecuali untuk menggali informasi, sekaligus dipakai untuk menga­dakan observasi terhadap perilaku pribadi.

4. Merupakan suatu teknik yang efektif untuk menggali gejala-gejala psychis, terutama yang berada di bawah sadar.

5. Dari pengalaman para peneliti, metode mi sangat cocok untuk dipergunakan di dalam pengumpulan data-data sosial.

Kekurangan-kekurangannya :

  1. Kurang efisien, karena mremboroskan waktu, cenaga, pikiran, dan biaya.
  2. Diperlukan adanya keahlian/penguasaan bahasa dari interviewer.
  3. Memberi kemungkinan interviewer dengan sengaja memutarbalikan jawaban. Bahkan memberikan kemungkinan interviewer untuk memalsu jawaban yang dicatat di dalam cacatan wawancara (tidak jujur)
  4. Apabila interviewer dan interviewee memnunyai perbedaan yang sangat mencolok. Sulit untuk mengadakan rapport sehinga yang diperoleh kurang akurat.
  5. Jalannya interview sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sekitar, sehingga akan menghambat dan mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh.

B. ANGKET

Yang dimaksud dengan angket, adalah suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angker ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban, dan sebagainya. Teknik ini lebih cocok dipakai untuk memperoleh data yang cukup luas, dari kelompok/ masyarakat yang berpopulasi besar, dan betebaran tempatnya. Biasanya pengirimannya dilakukan melalui pos kepada responden.

Oleh karena angket ini selalu berbentuk formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan (question), maka angket sering disebut “questionaire “. Tetapi tidak berarti kuesioner itu sama dengan; dengan angket Sebab kuesioner (daftar pertanyaan) itu tidak selalu responden sendiri yang mengisi, di mana kuesioner ditanyakan. secara lisan kepada responden melalui wawancara, dan yang mengisi kuesioner itu adalah interviewer berdasarkan jawaban lisan dari responden. Jadi ada kuesioner yang langsung diisi oleh responden sendiri, yang disebut “angket”, dan ada kuesioner sebagai pedoman (pegangan ) wawancara.

Mengingat bahwa responden sendiri yang harus mengisi kuesioner tersebut, maka angket tidak dapat dilakukan untuk responden yang buta huruf.

1. Beberapa Tipe Angket

a. Menurut sifatnya.

1) Anqket umum, yang berusaha sejauh mungkin untuk memperoleh selengkep-lengkapnya tentang kehidupan seseorang.

2) Angket khusus, hanya berusaha untuk mendapatkan data-data mengenai sifat-sifat khusus dari pribadi seseorang.

b. Menurut cara penyampaiannya

1) Angket langsung, apabila disampaikan langsung kepada orang yang dimintai informasinya tentang dirinya sendiri.

2) Angket tak langsung, apabila pribadi yang disuruh mengisi angket adalah bukan responden langsung. la akan menjawab dan memberikan informasi tentang diri orang lain.

c. Menurut bentuk strukturnya

1) Angket berstruktur. Angket ini disusun sedemikian rupa tegas, dedinitif, terbata, dan konkret, sehingga responden dapat dengan mudah mengisi atau menjawabnya.

2) Angket tak berstruktur. Angket ini dipakai bila peneliti menghendaki suatu uraian dari informan atau responden tentang su­atu masalah dengan suatu penulisan atau penjelasan yang panjang lebar. Jadi pertantnyaannya bersifat terbuka dan bebas.

Berdasarkan bentuk pertanyaannya atau menurut jenis penyusunan item yang diajukan, angket dibedakan menjadi:

a. Angket berbentuk isian, di mana responden diberi kebebasan untuk mengisi dengan jawaban yang sesuai menurut responden (open eded item).

b. Agket berbentuk pilihan, di mana jawabannya telah disediakan (Closed ended item).

2. Psikologi Menjawab Angket

Sitat kerjasama adalah syarat penting dalam penelitian yang menggunakan angket. Untuk itu maka para peneliti yang menggunakan meteode ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri. Tetapi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang ada pada diri responds. sebagai responden ini biasanya :

a. Asing bagi peneliti.

b. Tidak berkepentingan atas hasil penelitian yang dilakukan oleh orang lain.

c. Sudah sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri.

Oleh karena itu, dalam hal ini peneliti harus memahami lebih dahulu psikologi menjawab angketnya. bagaimana minatnya, motivasinya. kesediaannya, dan kejujurannya dalam memberikan jawaban. Hal yang harus dijawab lebih dahulu sebelum peneliti melakukan angket. adalah pertanyaan-pertanyaan antara lain sebagai berikut.

- Mengapa mereka (responden) harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

- Adakah cukup alasan bagi penjawab untuk bersusah payah menjawab angket.

- Apakah ada kepastian tentang perhatian, simpati, kesediaan dan sebagainya dari responden dan sebagainya.

Persiapan dan Penyusunan Angket

Kriteria yang perlu diperhatikan dalam persiapan dan persiapan penyusunan angket, antara lain sebagai berikut:

- Pertanyaan harus singkat dan jelas, terutama jelas bagi bagi calon penjawab.

- Jumlah pertanyaan hendaknya dibuat sedikit mungkin, supaya penjawab tidak terlalu membuang waktu.

- Pertanyaan hendaknya cukup merangsang minat penjawab.

- Pertanyaan dapat “memaksa” penjawab untuk memberikan jawaban yang mendalam, tetapi “to the point”.

- Pertanyaan jangan sampai menimbulkan jawaban yang meragukan.

- Pertanyaan jangan bersifat interogatif, dan jangan sampai menimbulkan kemarahan penjawab.

- Pertanyaan jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada penjawab.

Di samping hal-hal tersebut, pada lembaran pertama dari angket harus dijelaskan tentang tujuan penelitian, serta petunjuk-petunjuk/ penjelasan tentang bagaimana cara menjawab atau mengisi formulir (angket) tersebut.

Kelebihan :

- Dalam waktu singkat (serentak) dapat dapat diperoleh data yang banyak

- Menghemat tenaga dan mungkin biaya

- Responden dapat memilih waktu senggang untuk mengisinya, sehingga tidak terlalu terganggu bila dibandingkan dengan wawancara

- Secara psikhologis responden tidak merasa terpaksa dan dapat menjawab lebih terbuka dan sebagainya

Kekurangan :

- Jawaban akan lebih banyak dibumbui dengan sikap dan harapan-harapan pribadi, sehingga lebih bersifat sujektif.

- Dengan adanya bentuk (susunan) pertanyaan yang sama untuk responden yang sangat hiterogen, maka penafsiran pertanyaan akan berbeda-beda sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan dan sebagainya dari responden.

- Tidak dapat dilakukan untuk golongan masyarakat yang buta huruf.

- Apabila responden tidak dapat memahami pertanyaan/ tak dapat menjawab, akan terjadi kemacetan, dan mungkin responden tidak akan menajwab seluruh angket.

- Sangat sulit untuk memutuskan pertanyaan-pertanyaan secara tepat degan menggunakan bahasa yang jelas atau bahasa yang sederhana.

Leave a comment »

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

A. Pengertian Populasi dan Sampel

Pelaksanaan suatu penelitian selalu berhadapan dengan objek yang di teliti atau yang diselidiki. Objek tersebut dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati lainnya, serta peristiwa dan gejala yang terjadi di dalam masyarakat atau di dalam alam.

Dalam melakukan penelitian, kadang-kadang peneliti melakukannya terhadap seluruh objek, tetapi sering juga peneliti hanya mengambil sebagian saja dari seluruh objek tersebut. Meskipun pe­nelitian hanya mengambil sebagian dari objek yang diteliti, tetapi hasilnya dapat mewakili atICONSICONSau mencakup seluruh objek yang diteliti.

Keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut adalah populasi penelitian atau universe. Sedangkan sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ini disebut ‘sampel penelitian’. Dalam mengambil sampel penelitian ini digunakan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik ini biasanya disebut ‘teknik sampling’. Di dalam penelitian survei teknik sampling ini sangat penting dan perlu diperhitungkan masak-masak. Sebab teknik pengambilan sampel yang tidak baik akan mempengaruhi validitas hasil penelitian tersebut.

B. Kegunaan Sampel

Di dalam penelitian ilmiah, banyak masalah yang tidak dapat dipecahkan tanpa memanfaatkan teknik sampling. Penelitian kesehatan kedokteran meliputi bidang yang sangat luas, yang terdiri doei berbagai sub bidang. Apabila dilakukan penelitian lidak hanya dapat dilakukan terhadap unit atau sub bidang tertentu saja. Oleh sebab itu agar dapat dilakukan penelitian terhadap semua sub bidang dan dengan biaya murah, peneliti dapat melakukan sampling atau pengambilan sampel terhadap objek yang ditelitinya.

Kegunaan sampling di dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut :

  1. Menghemat biaya

Proses pelaksanaan penelitian yang mencakup alat penelitian pengumpulan data, pengolahan data, dan sebagainya memerlukan biaya yang relatif besar. Apabila penelitian tersebut dilakukan terhadap seluruh objek yang diteliti sudah barang tentu akan memakan lebih banyak lagi biaya. Oleh sebab itu dengan sampling, dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebagian populasi, biaya tersebut dapat ditekan atau dikurangi.

  1. Mempercepat pelaksanaan penelitian

Penelitian yang dilakukan terhadap objek yang banyak (seluruh populasi) jelas akan memakan waktu yang lama, bila dibandingkan dengan hanya terhadap sebagian populasi saja (sampel). Oleh sebab itu jelas bahwa peneiitian yang hanya dilakukan terhadap sampel akan lebih cepat selesai.

  1. Menghemat tenaga

Pelaksanaan penelitian yang dilakukan terhadap seluruh populasi jelas akan memerlukan tenaga yang lebih banyak bila dibandingkan dengan penelitian yang hanya dilakukan terhadap sebagian saja dari populasi tersebut. Dengan kata lain, penelitian yang dilakukan hanya terhadap sampel ini lebih menghemat tenaga.

  1. Memperluas ruang lingkup penelitian

Penelitian yang dilakukan terhadap seluruh objek akan memakan waktu, tenaga, biaya, dan fasilitas-tasilitas lain yang lebih besar. Apabila penelitian dilakukan terhadap sampel, maka dengan waktu, tenaga, dan biaya yang sama dapat dilakukan penelitian yang lebih luas ruang lingkupnya.

  1. Memperoleh hasil yang lebih akurat

Penelitian yang dilakukan terhadap populasi jelas akan menyita sumber-sumber daya yang lebih besar, termasuk usaha-usaha analisis. Hal ini akan berpengaruh terhadap keakuratan hasil penelitian. Dengan menggunakan sampel, maka dengan usaha yang sama akan diperoleh hasil analisis yang lebih akurat.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTLMBANGKAN

Untuk keberhasilan suatu penelitian perlu dipertimbangkan faktor-faktor yang dapat berpengaruh pengambilan sampel. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Membatasi populasi

Suatu populasi menunjukkan pada sekelompok subjek yang menjadi objek atau sasaran penelitian. Sasaran penelitian ini dapat dalam bentuk manusia maupun bukan manusia, seperti wilayah geografis, penyakit, penyebab penyakit, program-program kesehatan, gejala-gejala penyakit, dan lain sebagainya. Apabila tidak dilakukan pembatasan-pembatasan terhadap populasi, maka kesimpulan yang ditarik dan hasil penelitian tidak menggambarkan atau mewakili seluruh populasi. Tanpa pembatasan dengan jelas anggota populasi, ta tidak memperoleh sampel yang representatif. Oleh sebab itu dalam penelitian apa pun populasi tersebut harus dibatasi, misalnya satu wilayah kelurahan, kecamatan, atau kabupaten. Kelompok umur tertentu, penyakit-penyakit tertentu, dan sebagainya. Perlu diingat di sini ialah bahwa nilai suatu hasil penelitian bukan ditentukan oleh besar kecilnya populasi, melainkan ditentukan oleh bagaimana peneliti menggunakan dasar pengambilan kesimpulan atau teknik samling. Bila suatu kesimpulan ditarik berdasarkan pada sampel yang diambil dengan teknik yang salah, maka kesimpulan hasil penelitian tidak dapat berlaku seluruh populasi. Sebaliknya, bila suatu penelitian dilakukan terhadap sampel yang representatif terhadap populasi, dan diambil dengan teknik sampling yang tepat, maka kesimpulan atau generalisasi yang diperoleh dapat diharapkan representatif. Oleh sebab itu pembatasan populasi sangat penting untuk memperoleh sampel representatif.

2. Mendaftar seluruh unit yang menjadi anggota populasi

Seluruh unit yang menjadi anggota populasi dicatat secara jelas sehingga dapat diketahui unit-unit yang termasuk pada populasi dan unit mana yang tidak. Misalnya penelitian tentang status gizi anak balita di Kelurahan X, maka sebelum pengambilan sampel terlebih dahulu dilakukan pencatatan seluruh anak di bawah lima tahun yang berdomisili di Kelurahan X tersebut. Untuk melakukan ini, dengan sendirinya peneliti terlebih dahulu harus membuat batasan tentang anak balita tersebut atau batasan populasinya, seperti telah disebutkan di muka.

3. Menemukan sampel yang akan dipilih

Dari daftar anggota populasi seperti disebutkan di atas, kemudian dipilih anggota-anggota populasi yang akan dipilih sebagai sampel. Besarnya atau banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel memerlukan perhitungan tersendiri, akan diuraikan di datam bab lain. Besar/kecilnya suatu sampel bukan ukuran untuk menentukan apakah sampel tersebut representatif atau tidak. Hal ini akan tergantung dari karakteristik populasi, misalnya homogen atau hiterogen, dan sebagainya.

4. Menenentukan teknik sampling

Teknik pengambilan sampel ini sangat penting. karena apabila salah dalam menggunakan teknik sampling maka hasilnya pun akan jauh dari kebenaran. Teknik pengambilan sampling ini akan dibicarakan tersendiri didalam bab ini.

D. Prosedur Pengambilan Sampel

Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam mengambil sampel dari populasi adalah sebagai berikut:

1. Menentukan tujuan penelitian

Tujuan penelitian adalah suatu langkah pokok bagi suatu penelitian, karena tujuan penelitian tersebut merupakan arah untuk elemen-elemen yang lain dari penelitian. Demikian pula dalam menentukan sampel tergantung pula pada tujuan penelitian. Oleh sebab itu langkah pertama dalam mengambil sampel dari populasi adalah menentukan tujuan penelitian.

2. Menentukan populasi penelitian

Telah disebutkan di atas bahwa anggota populasi di dalam penelitian tersebut harus dibatasi secara jelas. Oleh sebab itu sebelum sampel ditentukan harus ditentukan dengan jelas kriteria atau batasan populasinya. Dengan demikian maka akan menjamin pengambilan sampel secara tepat.

3. Menentukan jenis data yang diperlukan

Jenis data yang akan dikumpulkan dari suatu penelitian harus dirumuskan secara jelas. Apabila jenis data yang akan dikumpulkan telah di rumuskan secara jelas, maka dapat dengan mudah ditentukan dari mana data tersebut diperoleh atau ditentukan sumberdatanya.

4. Menentukan teknik sampling

Penentuan teknik sampling yang akan digunakan dalam pengambilan sampel dengan sendirinya akan tergantung dari tujuan penelitian dan sifat-sifat populasi.

5. Menentukan besarnya sampel (sample size)

Meskipun besar/kecilnya sampel belum menjamin represen tatifnya atau tidaknya suatu sampel, tetapi penentuan besar dapat merupakan langkah penting dalam pengambilan sampel. Secara statistik penentuan besarnya sampel ini akan tergantung pada jenis dan besarnya populasi. Penentuan besarnya sampel ini akan dibicarakan di dalam bagian lain.

6. Menentukan unit sampel yang diperlukan

Sebelum menentukan sampel yang diperlukan, terlebih dulu akan ditentukan unit-unit yang menjadi anggota populasi. Hal ini akan memudahkan dalam menentukan unit yang mana akan di sampel.

7. Memilih sampel

Apabila karakterisrik populasi sudah ditentukan dengan jelas maka kita dapat dengan mudah memilih sampel sesuai dengan karakteristik populasi tersebut. Dalam memilih sampel dari populasi ini dengan sendirinya berdasarkan teknik-teknik pengambilan sampel.

E. Teknik Sampling

Pada garis besarnya hanya ada dua jenis sampel, yaitu sampel-sampel probabilitas (probability samples) atau sering disebut random sample (sampel acak) dan sampel-sampel non-probabilitas (non probality samples). Tiap-tiap jenis sampel ini terdiri dari berbagai macam pula.

F. Random Sampling

Pengambilan sampel secara random atau acak disebut random sampling, dan sampel yang diperoleh disebut sampel random. Teknik random sampling, dan hanya boleh digunakan apabila setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogen. Hal ini berarti setiap anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Teknik random sampel ini dapat dibedakan menjadi:

1. Pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple random sampling)

Hakikat dari pengambilan sampel secara acak sederhana adalah bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Apabila besarnya sampel yang diinginkan itu berbeda-beda, maka besarnya kesem­patan bagi setiap satuan elementer untuk terpilih pun berbeda-beda pula. Teknik pengambilan sampel secara acak sederhana ini dibeda­kan menjadi dua cara, yaitu dengan mengundi anggota populasi (lottery technique) atau teknik undian, dan dengan menggunakan label bilangan atau angka acak (random number). Random number ini dapat dilihat pada buku-buku statistik.

2. Pengambilan sampel secara acak sisiematis (Systematic sampling)

Teknik ini merupakan modifikasi dari sampel random sampling. Caranya adalah, membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan. Hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi secara acak antara 1 sampai dengan n. Kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan, misalnya hasil sebgai interval adalah X, maka yang terkena sampel adalah setiap kelipatan dari X tersebut. Contoh, jumlah populasi 200, sampel yang diinginkan 50, maka intervalnya adalah 200 : 50 = 4. maka anggota populasi yang terkena sampel adalah setiap elemen yang mempunyai nomor kelipatan 4, yakni 4, 8, 12, 16, dan seterusnya sampai mencapai jumlah 50 anggota sampel.

3. Pengambilan sampel secara acak Stratifikasi (stratified sampling atau stratified random sampling)

Apabila suatu populasi terdiri dari unit yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda atau heterogen, maka teknik pengambilan sampel yang tepat digunakan adalah stratified sampling. Hal ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi karakteristik umum dari anggota populasi, kemudian menemukan strata atau lapisan dari jenis karakteristik unit-unit tersebut. Penentuan straia ini dapat didasarkan bermacam-macam, misalnya tingkatan sosial ekonomi pasien, tingkat keparahan penyakit, umur penderita, dan lain sebagainya. Setelah ditentukan stratanya barulah dari masing-masing strata ini diambil sampel yang mewakili strata tersebut secara random atau acak.

Agar perimbangan sampel dari masing-masing strata itu memadai maka dalam teknik ini sering pula dilakukan perimbang antara jumlah anggota populasi berdasarkan masing-masing strata. Oleh sebab itu maka disebut pengambilan sampel secara prappartion stratified sampling.

Pelaksanaan pengambilan sampel dengan stratified, mula-mula menetapkan unit-unit anggota populasi dalam bentuk strata yang didasarkan pada karakteristik umum dari anggota-anggota populasi yang berbeda-beda. Setiap unit yang mempunyai karakteristik umum yang sama, dikelompokkan pada satu strata, kemudian dari masyarakat masing-masing strata diambil sampel yang mewakilinya.

Langkah-langkah yang ditempuh pengambilan sampel secara stratified adalah :

a. Menentukan populasi penelitian.

b. Mengidentifikasi segala karakteristik dari unit-unit yang menjadi anggota populasi.

c. Mengelompokkan unit anggota populasi yang mempunyai karakteristik umum yang sama dalam suatu kelompok atau strata misal­nya berdasarkan tingkat pendidikan.

d. Mengambil dari setiap strata sebagian unit yang menjadi anggotanya untuk mewakili strata yang bersangkutan.

e. Teknik pengambilan sampel dari masing-masing strata dapat dila­kukan dengan cara random atau non-random.

f. Pengambilan sampel dari masing-masing strata sebaiknya dilakukan berdasarkan perimbangan (proporsional).

4. Pengambilan sampel secara kelompok atau gugus (cluster sampling)

Pada teknik ini sampel bukan terdiri dari unit individu, tetapi terdiri dari kelompok atau gugusan. Gugusan atau kelompok yang diambil sebagai sampel ini terdiri dari unit geografis (desa, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya), unit organisasi, misalnya klinik, PKK, LKMD, dan sebagainya. Pengambilan sampel secara gugus, peneliti tidak mendaftar semua anggota atau unit yang ada di dalam populasi, melainkan cukup mendaftar banyaknya kelompok atau gugus yang ada di dalam populasi itu. Kemudian mengambil sampel berdasarkan gugus-gugus tersebut. Misalnya penelitian tentang kesinambungan imunisasi anak balita di Kecamatan X yang terdiri dari 15 desa atau kelurahan, dengan sampel sebesar 20%. Pengambilan sampel secara gugus adalah dengan mengambil 3 kelurahan dari 15 kelurahan yang ada di Kecamatan X tersebut secara random. Kemudian semua anak balita yang bedomisili di tiga kelurahan yang terkena sampel tersebut itulah yang diteliti.

5. Pengambilan sampel secara gugus bertahap (multistage sampling)

Pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tigkat wilayah secara bertahap. Hal ini memungkinkan untuk diaksanakan bila populasi terdiri dari bermacam-macam tingkat wilayah. Pelaksanaannya dengan membagi wilayah ke populasi dalam sub-sub wilayah, dan tiap sub wilayah dibagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan seterusnya. Kemudian menetapkan sebagian dari wilayah populasi (sub wilayah) sebagai sampel. Dari sub wilayah yang menjadi sampel ditetapkan pula bagian-bagian dari sub wilayah sebagai sampel, dan dari bagian-bagian kecil tersebut ditetapkan unit-unit yang terkecil diambil sampel-sampel. Misalnya pelaksanaan suatu penelitian di suatu wilayah kabupaten. Mula-mula diambil beberapa kecamatan sebagai sampel dari kecamatan-kecamatan yang terkena sampel ini diambil eberapa kelurahan sebagai sampel, selanjutnya dari kelurah-kelurahan sampel ini diambil beberapa RW sebagai sampel, dan dari beberapa sampel diambil lagi beberapa RT sebagai sampel, dan akhirnya dari RT-RT yang terkena sampel tersebut diambil beberapa atau seluruh unit sebagai sampel. Oleh sebab itu, pengambilan sampel semacam ini sering disebut area sampling atau pengambilan sampel menurut wilayah.

Non Random (Non Probability) Sampling

Pengambilan sampel bukan secara acak atau random adalah pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan yang dapat diperhitungkan, tetapi semata-mata hanya berdasarkan kepada segi-segi kepraktisan belaka. Metode ini mencakup beberapa teknik antara lain sebagai berikut:

  1. Porposive Sampling

Pengambilan sampel secara porposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Pelaksanaan pengambilan sampel secara porposive ini antara lain sebagai berikut:

Mula-mula peneliti mengldennfikasi semua karakteristik populasi misalnya dengan mengadakan studi pendahuluan/dengan mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan populasi. Kemudian peneliti menetapkan berdasarkan pertimbangannya sebagian dari anggota populasi menjadi sampel penelitian, sehingga teknik pengambilan sampel secara porposive ini dida­sarkan pada pertimbangan pribadi peneliti sendiri. Teknik ini sangat cocok untuk mengadakan studi kasus (Case study), di rnana banyak aspek dari kasus tunggal yang represenrarif untuk diamati dan dianalisis.

  1. Quata Sampling

Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quotum atau jatah. Teknik sampling ini diiakukan dengan cara: Pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah). kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Anggota po­pulasi mana pun yang akan diambil tidak menjadi soal, yang penting jumlah quotum yang sudah ditetapkan dapat dipenuhi.

  1. Accidental Sampling

Pengambilan sampel secara aksidemal (accidental) ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia. Bedanya dengan porposive sampling adalah, kalau sampel yang diambil secara proposive berarti dengan sengaja mengambil atau memilih kasus atau responden. Sedangkan sampel yang diambil secara aksidental berarti sampel diambil dari responden atau kasur yang kebetulan ada.

G. Penentuan Besarnya Sampel (Sample Size)

Menetapkan besarnya atau jumlah sampel suatu penelitian tergantung kepada dua hal, yaitu: Pertama. adanya sumber-sumber yang dapat digunakan untuk menentukan batas maksimal dari sampel. Kedua, kebutuhan dan rencana analisis yang menentukan batas minimal dari besarnya sampel. Misalnya Keterbatasan jumlah pewawancara atau pengumpul data. dan keterbatasan sumber-sumber daya pendukung yang lain menutut hanya jumlah sampel yang kecil. dilain pihak, agar memungkinkan hasil yang dapat dipercaya dari analisis tabel silang, serta memberikan ketepatan tenentu dari perkiraan proporsi yang diinginkan dan melakukan uji kemaknaan perbedaaniperbedaan proporsi tersebut diperlukan jumlah sampel yang cukup besar.

Untuk menghitung minimum besarnya sampel yang dibutuhkan bagi ketepatan (accuracy) dalam membuat perkiraan atau estimasi proporsi-proporsi, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan antara lain sebagai berikut:

1. Berapa angka perkiraan yang masuk akal dari proporsi-proporsi yang akan diukur dalam penelitian itu. Misalnya kita akan meneliti prevalensi penyakit jantung koroner, kita harus memperkirakan berapa angka prevalensi yang akan kita peroleh di dalam populasi. Apabila kita tidak dapat memperkirakan hal itu, yang paling aman kita perkirakan angka tersebut adalah 0,50 (50%). Dengan angka ini akan diperoleh variance yang maksimal sehingga sampel yang dipilih cukup mewakili.

2. Berapa tingkat kepercayaan yang diinginkan dalam penelitian tersebut, atau berapa jauh penyimpangan estimasi sampel dari proporsi sebenarnya dalam keseluruhan populasi. Apabila kita menginginkan derajat ketepatan yang tinggi maka diambil angka 0,01, maka jumlah sampel akan lebih besar daripada kita memilih derajat ketepatan 0,05.

3. Berapa derajat kepercayaan (confidence level) yang akan digunakan agar estimasi sampel akurat. Pada umumnya digunakan 91% atau 95% derajat kemaknaan (confidence level).

4. Berapa jumlah populasi yang harus diwakili oleh sampel tersebut? Apabila besar populasi itu lebih dari 10.000, maka ketepatan besarya sampel tidak begitu penting. Tetapi bila populasi lebih kecil dari 10 000, ketepatan atau besarnya sampel perlu diperhitungkan.

Dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, kita dapat menghitung besarnya sampel untuk mengukur proporsi dengan alat akurasi pada tingkatan statistik yang bermakna (significance) deengan menggnakan formula yang sederhana seperti di bawah ini :

untitled-2

keterangan :

d = Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan, biasanya 0,05 atau 0.001.

Z = Standar deviasi normal, biasanya ditentukan pada 1,95 atau 2,0 yang sesuai dengan derajat kemaknaan 95 %.

p = Proporsi untuk sifat tertentu yang diperkiraakan terjadi pada populasi. Apabila tidak diketahui proporsi atau sifat tertentu tersebut maka p = 0,05.

q = 1,0 – p

N = Besarnya populasi

n = Besarnya sampel.

Contoh Penggunaan :

Penelitian tentang status gizi anak balita di Kelurahan X dengan jumlah Populasi 923.000, di mana kasus atau prevalensi gizi kurang pada Populasi tersebut tidak diketahui. Berapa jumlah sampel yang harus diambil apabila menghendaki derajat kemaknaan 95% dan dengan estimasi Penyimpangan 0.05?

0,05 = 1,95 x untitled3 untitled4

0,0025 = untitled61

n = 480

Jadi jumlah sampel yang akurat lebih kurang 480 atau 500.

Untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000. dapat menggunakan formula yang lebih sederhana lagi seperti berikut :

untitled5

Keterangan :

N = Besar populasi

n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan/ketetapan yang di inginkan

Beberapahal yang perlu diperhatikan dalam menentukan antara lain :

  1. Sampel yang lebih besar akan memberikan hasil yang lebih akurat, tetapi memerlukan lebih banyak waktu, tenaga, biaya, dan fasilitas-fasilitas lain.
  2. Pengambilan sampel acak memberikan data kuantitatif yang lebih representatif dan populasi yang besar daripada pengambilan sampel yang non random. Tetapi sampel yang non random dapat digunakan untuk memaksimalkan data kualitatif dari sampel yang relatif
  3. Besar/kecilnya sampel bukan sam-satunya ukuran untuk menentukan representatif atau tidak representatifaya terhadap populasi. Hal ini tergantung pula pada sifat-sifat populasi yang diwakilinya.

Leave a comment »

KERANGKA KONSEP, VARIABEL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep

Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep. Variabel adalah sesuatu yang bervariasi.

Contoh: Sehat adalah konsep; istilah ini mengungkap sejumlah observasi tentang hal-hal atau gejala-gejala yang mencerminkan kerangka keragaman kondisi kesehatan seseorang. Untuk mengetahui apakah seseorang itu “sehat” atau “tidak sehat” maka pengetahuan konsep “sehat” tersebut harus melalui konstruk atau variabel-variabel misalnya: tekanan darah, denyut nadi, Hb darah, dan sebagainya. Tekanan darah, denyut nadi, Hb darah dan sebagainya ini variabel-variabel yang digunakan untuk mengobservasi atau mengukur apakah seseorang itu “sehat” atau “tidak sehat”.

Sosial-ekonomi adalah suatu konsep, dan untuk mengukur sosial ekonomi keluarga misalnya, harus melalui variabel-variabel: tinggi pendidikan, pekerjaan dan pendapatan keluarga itu.

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan.

Contoh sederhara:

untitled-11

Dari contoh kerangka konsep penelitian tersebut di atas dapat dilihat bahwa di sana ada 4 konsep yaitu konsep tentang faktor predisposisi, faktor pendukung, faktor pendorong terhadap terjadinya perilaku, dan konsep faktor perilaku pemberian ASI itu sendiri. Tiap konsep, masing-masing mempunyai variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran masing-masing konsep tersebut. Misalnya untuk mengukur faktor predisposisi maka dapat melalui variabel pengetahuan, pendidikan, sikap, dan persepsi.

Konsep perilaku pemberian ASI sebagai variabel dependen (vanabel tergantung) di sini dapat diukur melalui variabel “praktek menyusui”. Artinya perilaku pemberian ASI oleh ibu-ibu dapat diobservasi atau diukur dari praktek ibu-ibu dalam memberikan (Air Susu Ibu) kepada anak atau bayi mereka. Apakah mereka memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka atau tidak, bila memberikan bagaimana frekuensinya, caranya dan sebagainya.

A. VARIABEL

Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimilikinya oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Definisi lain mengatakan bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentangsesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya.

Berdasarkan hubungan fungsional antara variabei-variabel dengan yang lainnya, variabel dibedakan menjadi dua, yaitu terganiung, akibat, terpengaruh atau variabel dependen, dan bebas, sebab, mempengaruhi atau variabel independen. Disebut variabel tergantung atau dependen karena variabel ini dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel independen. Misalnya, variabel jenis pekerjaan (dependen) dipengaruhi oleh variabel pendidikan (independen), variabel pendapatan (dependen) dipengaruhi oleh variasi pekerjaan (independen), dan sebagainya.

Pengukuran Variabel

Pengukuran variabel dikelompokkan menjadi 4 skala pengukuran, yakni: a) skala nominal, b) skala ordinal, c) skala interval dan d) skala ratio.

1. Skala nominal, adalah suatu himpunan yang terdiri dari anggota-anggota yang mempunyai kesamaan tiap anggotanya, dan memiliki perbedaan dari anggota himpunan yang lain. Misalnya, jenis kelamin dibedakan antara laki-laki dan perempuan; pekerjaan, dapat dibedakan petani, pegawai, dan pedagang; suku bangsa, dapat dibedakan antara Jawa, Sunda, Batak, Ambon, dan sebagainya. Pada skala nominal, kita menghitung banyaknya subjek dari setiap kategori gejala, misalnya jumlah wanita dan pria. masing-masing sekian orang, jumlah pegawai dan bukan pegawai sekian orang, dan sebagainva. Masing-masing anggota himpunan tersebut tidak ada perbedaan nilai.

2. Skala ordinal, adalah himpunan yang beranggotakan menurut rangking, urutan, pangkat, atau jabatan. Dalam skala ordinal tiap himpunan tidak hanya dikategorikan kepada persamaan atau perbedaan dengan himpunan yang lain, tetapi juga berangkat dari pertanyaan lebih besar atau lebih kecil. Misalnya, variabel pendidikan dikategorikan SD, SLP, dan SLTA, variabel pendapatan dikategorikan tinggi, sedang, dan rendah, variabel umur dikategorikan anak-anak, muda, dan tua, dan sebagainya.

3. Skala interval, seperti pada skala ordinal, tetapi himpunan tersebut dapat memberikan nilai interval atau jarak antar urutan kelas yang bersangkutan. Kelebihan dari skala ini adalah bahwa jarak nomor yang sama menunjukkan juga jarak yang sama dari sifat yang diukur.

Contoh:

Interval a sampai d adalah 4 – 1 = 3 interval d dan c adalah 5 – 4 = 1. Dalam hal ini tiap anggota dalam kelas mempunyai persamaan nilai interval. Contoh lain adalah tentang skala pengukuran suhu dengan Fahrenheit dan Celsius, di mana masing-masing mempunyai aturan skala yang berbeda letak dan jaraknya, meskipun masing-masing memulainya dari nol. Contoh lain lagi adalah skala waktu tahun Masehi dan tahun Hijriah, meskipun masmg-masing memulai dari bilangan 1.

4. Skala ratio, adalah variabel yang mempunyai perbandingan yang sama, lebih besar atau lebih kecil. Variabel seperti panjang berat dan angka agregasi adalah variabel rasio. Misalnya, apabila sekarang beras beratnya 1 kuintal. maka 5 karung beras beratnva 5 kuintal.

B. Hipotesis

Hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan di dalam perencanaan penelitian. Untuk mengarahkan kepada hasil penelitian ini dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban sementara dari penelitian ini. Jawaban sementara dari suatu penelitian ini biasanya disebut hipotesis. Jadi hipotesis di dalam suatu penelitianr berarti jawaban sementara penelitian, patokan juga, atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. melalui pembuktian dari hasil penelitian, maka hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak.

Kesimpulan yang diperoleh dari pembuktian atau analisis dari dalam menguji rumusan jawaban sementara atau hipotesis itulah akhir suatu penelitian. Hasil akhir penelitian ini disebut juga kesimpulan penelitian, generalisasi atau dalil yang berlaku umum, walaupun pada taraf tertentu hal tersebut mempunyai perbedaan tingkatan sesuai dengan tingkat kemaknaan (significantcy) dari hasil analisis statistik. Hasil pembuktian hipotesis atau hasil akhir penelitian ini juga sering disebut thesis.

Hipotesis ditarik dari serangkaian fakta yang muncul sehuhubungan dengan masalah yang diteliti. Dari fakta dirumuskan hubungan antara satu dengan yang lain dan membentuk suatu konsep yang merupakan abstraksi dari hubungan antara berbagai fakta.

Hipotesis sangat penting bagi suatu penelitian karena hipotesis ini maka penelitian diarahkan. Hipotesis dapat membimbing (mengarahkan) dalam pengumpulan data. Secara garis besar hipotesis dalam penelitian mempunyai peranan sebagai berikut:

  1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian.
  2. Memfokuskan perhatian dalam rangka pengumpulan data.
  3. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta atau data.
  4. Membantu mengarahkan dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti (diamati).

Dari hipotesis peneliti menarik kesimpulan dalam bentuk yang masih sementara dan harus dibuktikan kebenarannya (hipotesis) sebagai titik tolak atau arah dari pelaksanaan penelitian. Memperoleh fakta untuk perumusan hipotesis dapat dilakukan antara lain dengan:

  1. Memperoleh sendiri dari sumber aslinya, yaitu dari pengalaman langsung di lapangan, rumah sakit, Puskesmas, atau labotarium. Dalam mengemukakan fakta ini kita tidak berusaha untuk melakukan perubahan atau penafsiran dari keaslian fakta yang diperoleh.
  2. Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan atau menafsirkannya dari sumber yang asli, tetapi masih berada di tangan orang yang mengidentifikasi tersebut, sehingga masih dalam bentuknya yang asli.
  3. Fakta yang diperoleh dari orang yang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya dalam bentuk penalaran abstrak, yang sudah merupakan simbol berpikir sebagai generalisas; dari hubungan antara berbagai fakta atau variabel.

Fakta adalah sangat penting dalam penelitian, terutama dalam perumusan hipotesis. Sebab, hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan fakta yang ditemukan. Hal ini berarti sangat berguna untuk dijadikan dasar membuat kesimpulan penelitian. Meskipun hipotesis ini sifatnya suatu ramalan, tetapi bukan hanya sekadar ramalan sebab, hipotesis ditarik dari dan berdasarkan suatu hasil serta Problematik yang timbul dari penelitian pendahuluan dan hasil pemikiran yang logis dan rasional. Hipotesis juga dapat dirumuskan dari teori ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

C. Bentuk Rumusan Hipotesis

Pada hakikatnya hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat di uji secara empiris. Biasanya hipotesis terdiri dan pernyataan terhadap adanya atau tidak adanya hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat dependent variabel. Variabel bebas ini merupakan variabel penyebapnya atau variabel pengaruh, sedang variabel terikat merupakan variabel akibat atau variabel terpengaruh.

Contoh sederhana : Merokok adalah penyebab penyakit kanker paru-paru paru. Di dalam contoh ini merokok adalah variabel yaitu variabel independen (penyebabnya), sedangkan kanker paru-paru merupaksn variabel dependen atau akibatnya.

Seperti telah diuraikan di atas, bahwa hipotesis adalah suatu simpulan sementara atau jawaban sementara dari suatu penelitian sebab itu hipotesis harus mempunyai landasan teoretis, bukan hanya sekadar suatu dugaan yang tidak mempunyai landasan ilmiah, melainkan lebih dekat kepada suatu kesimpulan. Ciri-ciri suatu hipotesis antara lain sebagai berikut:

  1. Hipotesis hanya dinyatakan dalam bentuk pernyataan (statement) bukan dalam bentuk kalimat tanya.
  2. Hipotesis harus tumbuh dari ilmu pengetahuan yang diteliti. Hal ini berarti bahwa hipotesis hendaknya berkaitan dengan lapangan ilmu pengetahuan yang sedang atau akan diteliti.
  3. Hipotesis harus dapat diuji, Hal ini berarti bahwa suatu hipotesis harus mengandung atau terdiri dari variabel-variabel yang diukur dan dapat dibanding-bandingkan. Hipotesis yang tidak jelas pengukuran variabelnya akan sulit mencapai hasil yang objektif
  4. Hipotesis harus sederhana dan terbatas. Artinya hipotesis yang tidak menimbulkan perbedaan-perbedaan, pengertian, serta tidak terlalu luas sifatnya.

Agar dapat merumuskan hipotesis yang memenuhi kriteria tersebut perlu dipertimbangkan berbagai hal antara lain yang terpenting adalah teknik yang akan digunakan dalam menguji rumusan hipotesis yang dibuat. Apabila suatu teknik tertemu dalam rumusan hipotesis ditetapkan, maka bentuk rumusan hipotesis yang dibuat dapat digunakan dalam penelitian.

D. Jenis-Jenis Rumusan Hipotesis

Berdasarkan bentuk rumusannya, hipotesis dapat digolongkan tiga. yakni:

1. Hipotesis Kerja

Adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan untuk membuat ramalan tentang peristiwa yang rerjadi apabila suatu gejala muncul. Hipotesis ini sering juga disebut hipotesis kerja. Biasanya makan rumusan pernyataan: Jika…..maka…….. Artinya, jika suatu faktor atau variabel terdapat atau terjadi pada suatu situasi, maka ada akibat tertentu yang dapat ditimbulkannya.

Contoh sederhana:

a. Jika sanitasi lingkungan suatu daerah buruk, maka penyakit menular di daerah tersebut tinggi.

b. Jika persalinan dilakukan oleh dukun yang belum dilatih, maka angka kematian bayi di daerah tersebul tinggi.

c. Jika pendapatan perkapita suatu negara rendah, maka status kesehatan masyarakat di negara tersebut rendah pula.

d. dan lain-lain.

Meskipun pada umumnya rumusan hipotesis seperti tersebut di atas, tetapi hal tersebut bukan saru-satunya rumusan hipotesis kerja. Karena dalam rumusan hipotesis kerja yang paling penting adalah bahwa rumusan hipotesis harus dapat memberi penjelasan tentang kedudukan masalah yang diteliti, sebagai bentuk kesimpulan yang akan diuji. Oleh sebab itu penggunaan rumusan lain seperti di atas masih dapat dibenarkan secara ilmiah.

2. Hipotesis Nol atau Hipotesis Statistik

Hipoiesis Nol biasanya dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau tidak adanya suatu perbedaan yang bermakna antara kelompok atau lebih mengenai suatu hal yang dipermasalahkan. Bila dinyatakan adanya perbedaan antara dua variabel, disebut hipotesis alternatif.

Contoh sederhana : hipotesis nol

a. Tidak ada perbedaan tentang angka kematian akibat penyakit jantung antara penduduk perkotaan dengan penduduk pedesaan.

b. Tidak ada perbedaan antara status gizi anak balita yang tidak mendapat ASI pada waktu bayi, dengan status gizi anak balita yang mendapat ASI pada waktu bayi.

c. Tidak ada perbedaan angka penderita sakit diare antara kelompok penduduk yang menggunakan air minum dari PAM dengan kelompok penduduk yang menggunakan air minum dari sumur.

d. dan sebagainya.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kedua kelompok yang bersangkutan adalah sama, misalnya status gizi dari balita yang mendapatkan ASI sama dengan status gizi anak balita yang tidak mendapatkan ASI. Bila hal tersebut dirumuskan dengan “selisih” maka akan menunjukkan hasil dengan nol, maka disebut hipotesis nol. Bila dirumuskan dengan “persamaan” maka hasilnya sama, atau tidak ada perbedaan. Oleh sebab itu apabila diuji dengan metode statistika akan tampak apabila rumusan hipotesis dapat diterima, dapat disimpulkan sebagaimana hipotesisnya. Tetapi bila rumusannya ditolak, maka hipotesis alternatifhya yang diterima. Itulah sebabnya maka sdperti rumusan hipotesis nol dipertentangkan dengan rumusan hipotesis altematif. Hipotesis nol biasanya menggunakan rumus Ho (misalnya HO : x = y) sedangkan hipotesis alternatif menggunakan simbol Ha (misalnya, Ha : x = > y).

Berdasarkan isinya, suatu hipotesis juga dapat dibedakan menjadi 2, yaitu: pertama, hipotesis mayor, hipotesis induk, atau hipotesis utama, yaitu hipotesis yang menjadi sumber dari hipotesis-hipotesis yang lain. Kedua, hipotesis minor, hipotesis penunjang, atau anak hipotesis, yaitu hipotesis yang dijabarkan dari hipotesis mayor. Di dalam pengujian statisik hipotesis ini sangat penting, sebab dengan pengujian terhadap tiap hipotesis minor pada hakikatnya adalah menguji hipotesis mayornya.

Contoh tidak sempurna :

Hipotesis mayor: “Sanitasi lingkungan yang buruk mengakibatkan tingginya penyakit menular”. Dari contoh ini dapat diuraikan adanya dua variabel, yakni variabel penyebab (sanitasi lingkungan) dan variabel akibat (penyakit menular). Kita ketahui bahwa penyakit menular itu luas sekali, antara lain mencakup penyakit-penyakit diare, demam berdarah, malaria, TBC, campak, dan sebagainya. Sehubungan dengan banyaknya macam penyakit menular tersebut, kita dapat menyusun hipotesis minor yang banyak sekali, yang masing-masing memperkuat dugaan kita tentang hubungan antara penyakit-penyakit tersebut dengan sanitasi lingkungan, misalnya :

a. Adanya korelasi positif antara penyakit diare dengan buruknya sanitasi lingkungan

b. Adanya hubungan antara penyakit campak dengan rendahnya sanitasi lingkungan.

c. Adanya hubungan antara penyakit kulit dengan rendahnya sanitasi lingkungan.

d. dan sebagainya.

Apabila dalam pengujian statistik hipotesis-hipotesis tersebut terbukti bermakna korelasi antara kedua variabel di dalam masing-masing hipotesis minor tersebut, maka berarti hipotesis mayornya juga diterima. Jadi ada korelasi yang positif antara sanitasi lingkungan dengan penyakit menular.

3. Hipotesis Hubungan dan Hipotesis Perbedaan

Hipotesis dapat juga dibedakan berdasarkan hubungan atau perbedaan 2 variabel alau lebih. Hipotesis hubungan berisi tentang dugaan adanya hubungan antara dua variabel. Misalnya, ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan praktek pemeriksaan hamil. Hipotesis dapat diperjelas lagi menjadi : Makin tinggi pendidikan ibu, makin sering (teratur) memeriksakan kehamilannya. Sedangkan hipotesis perbedaan menyatakan adanya ketidaksamaan atau perbedaan di antara dua variabel; misalnya. praktek pemberian ASI ibu-ibu de Kelurahan X berbeda dengan praktek pemberian ASI ibu-ibu di Kelurahan Y. Hipotesis ini lebih dielaborasi menjadi: praktek pemberian ASI ibu-ibu di Kelurahan X lebih tinggi bila dibandingkan dengan praktek pemberian ASI ibu-ibu di Kelurahan Y.


Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.